Rabu, 05 Desember 2018

TUGAS AKHIR SEMESTER
MODERNITAS DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
Mata Kuliah : Teori-Teori Sosial
Dosen pengampu : Masudi, S. Fil.I., M.A



Disusun Oleh :
Risyaf Rizalul Efendi (1740410016)


JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (A)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KUDUS 2018/2019

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan selalu diikuti dengan kemajuan teknologi. Hal ini terbukti dengan   banyaknya penemuan dalam bidang teknologi guna memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia melibatkan Negara-negara lain. Dalam banyak proyek pengembangan ilmu pengetahuan seperti penelitian-penelitian, beasiswa, dan institusi pendidikan, Negara-negara lain banyak terlibat baik dari segi pembiayaan maupun segi pengadaan fasilitas.
Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat yang modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Selain itu, ini juga menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional.
Indonesia bertekad untuk menjadi bangsa yang maju dan modernsejajar dengan bangsa-bangsa yang lain di dunia.  pada era ini dapat digambarkan bahwa Kondisi kehidupan bangsa Indonesia secara umum memiliki ciri khas sebagai berikut. 1.  masyarakat yang berubah dari Masyarakat agraris menjadi masyarakat industri,  yang dibarengi dengan makin deras nya urbanisasi. 2.  globalisasi informasi. 3.  makin Tingginya tingkat intelektual.  untuk memahami secara lebih tepat perubahan dinamis yang sedemikian cepat kondisi ini maka teori Alvin toffler tentang gelombang gelombang peradaban manusia dapat membantu kita.  ciri pertama merupakan peralihan dari gelombang pertama yaitu Masyarakat agraris ke gelombang kedua yaitu masyarakat industri sedangkan jari yang kedua adalah menggambarkan kondisi masyarakat gelombang ke-3 adalah masyarakat informasi peralihan dari gelombang kedua.  Dengan demikian jika di negara-negara maju persoalannya hanya dimunculkan oleh karena peralihan dari dua gelombang, maka Indonesia memiliki permasalahan yang lebih berat karena gejala 4 gelombang sekaligus bertemu dan berada pada masa dan tempat yang sama Indonesia saat ini.



RUMUSAN MASALAH
Apa bentuk modernitas dalam masyarakat
Bagaimana ciri modernitas dalam masyarakat
Bagaimana penyebab modernitas dalam masyarakat
TUJUAN
Untuk mengetahui bentuk modernitas dalam masyarakat
Untuk mengetahui ciri modernitas dalam masyarakat
Untuk mengetahui penyebab dalam masyarakat







BAB 1
PEMBAHASAN
Bentuk Modernitas Dalam Masyarakat
Dalam kehidupan manusia tentunya mengalami perkembangan pada setiap tahunnya. Manusia dari tahun ketahun semakin berkembang mengikuti arus globalisasi. Manusia pada era klasik sampai era modernitas.
Pengertian modernitas berasal dari perkataan "modern"; dan makna umum dari perkataan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan dari modern adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang bersangkutan dengan masa lampau. Jadi modernitas adalah pandangan yang dianut untuk menghadapi masa kini. Selain bersifat pandangan, modernitas juga merupakan sikap hidup. Yaitu sikap hidup yang dianut dalam menghadapi kehidupan masa kini. Kalau kita berbicara tentang masa kini, maka yang dimaksudkan adalah waktu sekarang dan masa depan.
Pengertian modernitas, yaitu pandangan dan sikap hidup yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini, banyak dipengaruhi oleh peradaban modern. Sedangkan yang dimaksudkan dengan peradaban modern adalah peradaban yang terbentuk mula-mula di Eropa Barat, kemudian menyebar di seluruh dunia Barat. Dengan begitu dapat pula dinamakan peradaban Barat. Peradaban Barat mempunyai dampak besar terhadap modernitas, oleh karena peradaban Barat pada masa kini merupakan peradaban yang dominan di sana. Sebagaimana dalam periode antara abad ke-6 hingga abad ke-16, peradaban Islam mempunyai pengaruh yang besar kepada kehidupan umat manusia di sekitar Laut Tengah, dan kemudian meninggalkan dampaknya kepada pembentukkan peradaban Barat, demikian pula di masa kini, seluruh kehidupan umat manusia tidak dapat lepas dari pengaruh peradaban Barat yang secara agresif dan dinamis memasuki seluruh pelosok dunia. Sebab itu, untuk mengenal dan mengembangkan modernitas tidak mungkin tanpa mengenal unsur-unsur utama peradaban Barat. 
  Yang dimaksudkan peradaban modern adalah peradaban Barat yang terbentuk setelah bangsa-bangsa Eropa melampaui masa Abad Pertengahan. Perkataan "modern" di sini adalah "Eropa centris" atau "Barat centris" karena sepenuhnya bersangkutan dengan kehidupan bangsa-bangsa di Eropa bahkan di Eropa Barat. Bangsa Eropa membagi sejarahnya dalam periode Zaman Kuno yang berlangsung dari permulaan hingga kurang lebih abad ke-5, Abad Pertengahan antara abad ke-5 hingga abad ke-16 dan Zaman Modern dari abad ke-16 hingga masa kini. Peradaban modern adalah peradaban Barat yang terbentuk pada Zaman Modern itu. Oleh karena itu sejak abad ke-16 dunia Barat berhasil melebarkan sayapnya ke seluruh dunia dan pada abad ke-20 berada pada zenith kemampuannya, maka pengaruh atau dampak peradaban modern itu terasa dimana-mana di dunia, baik dalam arti positif maupun negatif.
Peradaban yang modern menghasilkan kehidupan baru yang maju berkat ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi di pihak lain juga mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan yang besar. Kapitalisme menimbulkan kesengsaraan bagi para buruh dan petani, sedangkan imperialisme dan kolonialisme menyebabkan penderitaan yang parah sekali bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Karena itu terjadi reaksi terhadap kapitalisme berupa komunisme yang juga didasarkan materialisme dan yang kemudian menyebabkan Revolusi Komunis di Rusia. Reaksi yang tidak se-ekstrim komunisme adalah sosialisme yang memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi kaum buruh dan petani. Imperialisme dan kolonialisme mengakibatkan persaingan dan pertentangan antara bangsa-bangsa Eropa sendiri, dan menimbulkan perang besar. Yaitu perang dunia ke-1 dan ke-2. Rasionalisme dan individualisme juga menimbulkan keangkuhan manusia yang berlebihan. Berdasarkan materialisme dikatakan bahwa Tuhan itu hanya hasil dari otak manusia; dengan kata lain orang tidak percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kata modernisasi itu sendiri mempunyai arti yaitu, proses perubahan masyarakat atau kebudayaan dalam seluruh aspeknya dari yang tradisional kea rah yang lebih modern. Jadi, modernisasi itu adalah perubahan sosial yang sudah terarah atau diperbolehkan dalam masyarakat karena didasarkan pada suatu perencanaan.
Proses modernisasi sebenarnya adalah perubahan yang diunggulkan atau bermanfaat, karena modernisasi mencakup proses atau lingkupan yang sangat luas, dan kadang-kadang kita tidak dapat menetapkan batasan-batasannya
Gejala modernisasi di negara kita Indonesia dapat kita temui atau terlihat dalam berbagai aspek dalam kehidupan, baik dapat mempengaruhi gaya hidup masyarakat secara langsung ataupun juga tidak begitu mempengaruhi secara langsung anggota masyarakat itu.
Pengaruh modernisasi ini secara khusus juga dirasakan oleh kalangan remaja sebagai kalangan dari usia panca roba atau peralihan. Usia yang rentan dengan budaya coba-coba dan memiliki rasa keingintahuan yang cukup besar. Sering kali remaja ini menyelahgunakan teknologi untuk kesenangan belaka berlarut-larut dan tak terkontrol, khususnya penyalahgunaan media sosial tentu berpengaruh pada kehidupan para remaja, mulai dari gemarnya berselancar di dunia tanpa kenal waktu dan tempat menyebarkan, postingan alay untuk menarik perhatian dan menyebarkan gambar/foto yang tidak pantas untuk dipertontonkan dipublik, mengakses situs-situs porno. Belum lama ini kita dikejutkan denga  anak-anak yang sedang menonton video porno padahal orang tuanya berada dekat dengan anak tersebut.
Modernisasi ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang menawarkan berbagai fitur kesenangan salah satunya yaitu games, remaja yang kecanduan bermain game online, menjadi tidak memiliki skala prioritas dalam menjalani aktivitas sehari-hari menyebabkan malas dan prestasi menurun. Mendorong remaja untuk bertindak asosial, karena aktivitas bermain game online cukup menyita waktu berkomunikasi, baik berkomunikasi dengan keluarga maupun teman sebaya. Seperti saat ini lagi bumingnya permainan game online Mobile Legend di kalangan remaja hingga kadang mereka bolos sekolah, hanya untuk bermain dengan game online tersebut.
Ciri Modernitas Dalam Masyarakat

Membahas mengenai modernisasi kita akan disuguhkan pada suatu perkembangan manusia pada taraf kemajuan menggunakan pemikiraannya. Modernisasi sendiri dikenal oleh orang banyak sebagai bentuk dari perkembangan teknologi.
Padahal modernisasi sejatinya membawa perkembangan dan perubahan pada segala bidang, misalnya modernisasi ekonomi berarti menggantikan sistem ekonomi tradisional dengan sistem ekonomi yang lebih modern, atau modernisasi perilaku, artinya manusia dalam melakukan suatu hal berdasarkan ilmu pengetahuan modern bukan dalil-dalil suatu kepercayaan atau dogma-dogma agama.
Modernisasi dalam ilmu sosial didefinisikan sebagai suatu istilah untuk menyebutkan sebuah bentuk perubahan (transformasi) dari keadaan kurang maju atau kurang berkembang menjadi keadaan yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih makmur, sejahtera, dan bermartabat.
Modernisasi juga sering diungkapkan sebagai perkembangan ilmu teknologi dan pengetahuan yang terus berkembang. Pengaruh perubahan teknologi ini semakin dirasakan oleh para penduduk baik di dalam perkotaan maupun perkampungan sekalipun.
Secara sederhana, modernisasi berarti proses perubahan keadaan dari cara-cara tradisional ke cara-cara yang lebih baru yang diharapkan dengan itu dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Modernisasi merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terencana.
Bidang Iptek
Gejala modernisasi pada bidang ini ditengarai dengan terdapatnya pembaruan serta penemuan unsur-unsur ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbilang baru. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru tersebut terbukti mampu meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat. Hasil-hasil dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tentu mampu mempermudah dan membantu aktivitas masyarakat. Perilaku hidup masyarakat kekinian juga turut dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, misalnya saja dengan munculnya smartphone. Dahulu sebelum adanya benda ini, warga masyarakat tentu tidak direpotkan dengan membawa ke manapun benda ini. Bahkan ketika hendak tidur pun, banyak diantara warga masyarakat yang masih menggunakan smartphone. Dapat dipastikan setiap warga masyarakat modern tidak dapat terlepas dari kecenderungan penggunaan smartphone. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa benda hasil perkembangan teknologi turut membantu aktivitas penggunanya dalam berbagai aktivitas.
Bidang Ekonomi
Gejala modernisasi berikutnya pada bidang ekonomi adalah meningkatnya produksi sektor perekonomian serta efisiensi sumber daya yang alam maupun sumber daya manusia yang tersedia guna menunjang aktivitas perekonomian. Masyarakat modern cenderung lebih konsumtif jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Hal tersebut memicu pertumbuhan permintaan terhadap suatu barang. Secara otomatis kegiatan produksi terhadap barang konsumtif semakin meningkat. Tentu banyak hal yang diakibatkan oleh fenomena ini termasuk peningkatan kesejahteraan dan lain-lain disamping berbagai dampak negatif yang dihasilkannya.
Bidang Politik dan Ideologi
Gejala modernisasi berikutnya terjadi pada bidang politik dan ideologi. Pada bidang ini gejala modernisasi diindikasikan dengan terdapatnya sistem perwakilan yang bersifat demokratis, pemerintahan yang memiliki otoritas kebijakan, legislasi yang memiliki wewenang atas pengawasan kebijakan pemerintah, serta yudikatif yang memiliki wewenang penegakan hukum. Selain itu warga negara juga memiliki jaminan berkaitan dengan hak-hak politik serta sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu pola pikir masyarakat modern cenderung berkembang dan semakin cerdas dalam hal politik dan ideologi. Dahulu masyarakat cenderung sektarian dan berpikir kaku. Masyarakat modern dewasa ini semakin cerdas dan berimbang dalam memilah serta berpikir tentang keadaan politik dewasa ini. Masyarakat lebih cenderung berpikiran objektif dalam menerima informasi yang bermuatan politik dan ideologis. Ilmu pengetahuan serta wawasan menjadi filter penting dalam menyaring segala isu sosial dan politik yang memasuki kalangan akar rumput seperti warga masyarakat.



Bidang Kepercayaan atau Agama
Gejala modernisasi selanjutnya ada pada bidang keagamaan. Gelala pada bidang ini diindikasikan dengan adanya perkembangan rasionalitas atau nalar yang terintegrasi dengan ajaran agama yang dianut oleh umat beragama. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai sedikit demi sedikit meninggalkan kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat lebih cenderung memilih kepercayaan agama yang mempertimbangkan aspek modernitas namun tidak mengesampingkan kaidah ajaran agama yang berlaku. Misalnya saja, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keotentikan, rasionalitas, serta keabsahan ajaran dari kitab suci dalam agama tertentu.

Ciri-Ciri Modernisasi
Seperti telah diulas sebelumnya, bahwa modernisasi ini dapat terjadi dan dialami suatu kelompok masyarakat di sebuah Negara, secara bertahap dan merata. Karena arus modernisasi masuk secara bertahap, maka masyarakat akan mudah untuk mengenali ciri-ciri dari modernisasi itu sendiri, karena modernisasi merupakan modal kehidupan. Selengkapnya, berikut ini ciri-ciri dari modernisasi :
Kebutuhan Materi dan Persaingan Kebutuhan Manusia
Hal ini sangat terlihat jelas, dimana kebutuhan masyarakat saat ini semakin meningkat. Persaingan akan pemenuhan kebutuhan itu juga semakin banyak dan beragam. Sebagai contoh produksi smartphone yang beragam dan bersaing, namun mendapatkan market yang merata.
Adanya Kemajuan Teknologi
Modernisasi tentunya mendorong terjadinya  industrialisasi (pertanian dan agraris menjadi industri) , sekulerisasi (nilai agama menjadi non agama), individualisasi, akulturasi ( budaya lokal bertemu budaya asing) dan diferensiasi (perbedaan produk dan jasa lebih menarik).
Modernisasi Membawa Kemudahan
Modernisasi memberikan efek positif untuk kehidupan masyarakat, salah satunya dapat memudahkan aktifitas masyarakat saat ini. kemudahan ini terjadi di berbagai bidang, dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat itu sendiri.
Keinginan Masyarakat dapat Terpenuhi
Saat ini, berbagai kebutuhan dan keinginan masyarakat, sepertinya tidak begitu sulit untuk didapatkan. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan pelengkap lainya, kini sudah tersedia di lokasi yang mudah dijangkau.

Penyebab Modernitas Dalam Masyarakat

Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya faktor modernisasi telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat saat ini. Dampak-dampak tersebut ditimbulkan melalui sosial-sosial media yang sering kita gunakan.dari media social tersebut banyak sekali faktor yang menimbulkan dampak-dampak negatif dari modernisasi tersebut karna membawa budaya barat atau westernisasi dikalangan masyarakat saat ini.
Dari faktor modernisasi tersebut menuntun kita untuk mengikuti perkembanan zaman kepada teknologi-teknologi yang menghendaki supaya pola hidup kita cenderung ke barat-baratan.hal ini sangat menghawatirkan bagi budaya social masyarakat kita saat ini.selain itu dampak tersebut membawa perubahan-perubahan sistem terhadap pola hidup kita saat ini.
Kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat yang hidup saat ini selalu mengikuti apa saja hal-hal yang baru dan trending pada masanya.karna masyarakat tertarik dengan hal-hal yang baru dan selalu ingin mencoba hal-hal baru tersebut.jadi kita sebagai seorang muslim pada haqiqatnya dapat menentukan sesuatu dengan bijak dan dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah agar kita menjadi masyarkat yang lebih tau akan ajaran-ajaran agama.
Modernisasi menurut J.W Schoorl merupakan penerapan pengetahuan pada semua kegiatan, bidang kehidupan, dan aspek kemasyarakatan. Definisi ini mengantarkan kita untuk memahami modernisasi sebagai contoh perubahan sosial budaya yang bersifat positif keberlangsungannya bagi masyarakat, bukan sekedar perubahan sosial yang identik dengan “kekinian”. Contoh modernisasi dapat kita temui dalam bidang ekonomi dengan semakin mudah dilakukannya upaya manusia memenuhi kebutuhan melalui jual beli online. Modernisasi akan memiliki tendensi makna negatif bila mampu memudarkan hal-hal positif di masyarakat, contoh perubahan perilaku manusia yang cenderung individualis membuat budaya gotong royong luntur. Namun ada baiknya kita lebih teliti dalam mengenali modernisasi yang negatif karena seringkali keliru pemaknaan dengan westernisasi dan sekularisasi.
Penyebab Internal Modernisasi
Modernisasi tidak terjadi begitu saja dalam kehidupan masyarakat, tetapi didukung adanya dorongan atau penyebab modernisasi. Penyebab modernisasi dapat dikategorikan menjadi dua yaitu penyebab internal dan penyebab eksternal. Penyebab internal berasal dari dalam suatu kelompok masyarakat. Umumnya berupa keinginan untuk berubah atau keinginan untuk maju. Bila diuraikan lebih rinci, penyebab internal terdiri atas tiga faktor yaitu :
Adanya keinginan hidup lebih praktis atau lebih nyaman
Contoh modernisasi dalam masyarakat dari faktor satu ini adalah fasilitas delivery order makanan. Delivery order makanan hadir karena orang masa kini dapat dengan mudah memesan makanan via ponsel dan tidak perlu keluar rumah.
Adanya keinginan meningkatkan efisiensi kerja dan meningkatkan produksiPenggunaan komputer dan internet menjadi wujud dari adanya penyebab modernisasi satu ini, sekaligus menjadi tanda perbedaan modernisasi dan tradisional. Komputer dan internet telah mampu memfasilitasi orang untuk bekerja lebih cepat dan menghasilkan produk lebih banyak dibandingkan menggunakan mesin tik.
Adanya keinginan memperoleh sesuatu lebih banyak, bermutu, dan hemat tenaga
Hampir sama dengan penyebab modernisasi sebelumnya, penyebab satu ini muncul karena orang ingin memperoleh hasil maksimal dengan beban minimal. Contoh modernisasi yang muncul adalah adanya mesin pengemas produk yang mempercepat hasil produksi dibanding harus mengemas menggunakan box atau plastik menggunakan tangan.
Penyebab Eksternal Modernisasi
Penyebab eksternal modernisasi berasal dari luar kelompok masyarakat. Penyebab eksternal terdiri atas dua faktor yaitu :
Adanya keterbukaan interaksi dengan masyarakat lain.
Proses terjadinya interaksi sosial antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya mampu mempermudah modernisasi, khususnya ketika kedua masyarakat dapat saling melengkapi kebutuhan satu sama lain.
Kemudahan akses informasi
Selain interaksi fisik yang mudah, kemudahan akses informasi juga jadi penyebab modernisasi, misalnya penggunaan internet. Internet mampu membuat seseorang memperoleh informasi baru dari luar masyarakat tersebut secara lebih cepat dan banyak.






















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia tentunya mengalami perkembangan pada setiap tahunnya. Manusia dari tahun ketahun semakin berkembang mengikuti arus globalisasi. Manusia pada era klasik sampai era modernitas.
Pengertian modernitas berasal dari perkataan "modern"; dan makna umum dari perkataan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan dari modern adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang bersangkutan dengan masa lampau. Jadi modernitas adalah pandangan yang dianut untuk menghadapi masa kini. Selain bersifat pandangan, modernitas juga merupakan sikap hidup. Yaitu sikap hidup yang dianut dalam menghadapi kehidupan masa kini. Kalau kita berbicara tentang masa kini, maka yang dimaksudkan adalah waktu sekarang dan masa depan.
Seperti telah diulas sebelumnya, bahwa modernisasi ini dapat terjadi dan dialami suatu kelompok masyarakat di sebuah Negara, secara bertahap dan merata. Karena arus modernisasi masuk secara bertahap, maka masyarakat akan mudah untuk mengenali ciri-ciri dari modernisasi itu sendiri, karena modernisasi merupakan modal kehidupan.
Penyebab Internal Modernisasi
Modernisasi tidak terjadi begitu saja dalam kehidupan masyarakat, tetapi didukung adanya dorongan atau penyebab modernisasi. Penyebab modernisasi dapat dikategorikan menjadi dua yaitu penyebab internal dan penyebab eksternal. Penyebab internal berasal dari dalam suatu kelompok masyarakat. Umumnya berupa keinginan untuk berubah atau keinginan untuk maju.
Penyebab Eksternal Modernisasi
Penyebab eksternal modernisasi berasal dari luar kelompok masyarakat. Penyebab eksternal terdiri atas dua faktor yaitu :
Adanya keterbukaan interaksi dengan masyarakat lain.
Proses terjadinya interaksi sosial antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya mampu mempermudah modernisasi, khususnya ketika kedua masyarakat dapat saling melengkapi kebutuhan satu sama lain.
Kemudahan akses informasi
Selain interaksi fisik yang mudah, kemudahan akses informasi juga jadi penyebab modernisasi, misalnya penggunaan internet. Internet mampu membuat seseorang memperoleh informasi baru dari luar masyarakat tersebut secara lebih cepat dan banyak.
Politik islam dalam Pandangan Islam
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas  Akhir Semester
Mata Kuliah Teori Teori Sosial
Dosen Pengampu: Mas’udi S.Fil.I MA



Oleh :
Nama : Zainul Ibad
NIM : 1740410031
Kelas : PMI-A3

PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
IAIN KUDUS
2018


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Politik sangat banyak sekali di dalah kehidupannduni, tanpa kita pungkiri.Tentang akal fikiran sehat, Prof Wan menjelaskan bahwa aspek akal merupakan saluran penting yang dengannya diperoleh ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang jelas, , yaitu perkara yang dapat dipahami dan dikuasai oleh akal dan tenang sesuatu yang dapat dicerap oleh indera. Akal fikiran (al aql) bukan hanya rasio. Akal adalah “fakultas mental” yang mensistematisasikan dan menafsirkan fakta-fakta empiris menurut kerangka logika, yang memungkinkan pengalaman inderawi menjadikan sesuatu yang dapat dipahami. Akal adalah entitas spiritual yang rapat dengan hati (al qalb), yaitu menjadi tempat intuisi.
Buku Filsafat Ilmu karya Dr Adian Husaini dkk ini (tebal 310 halaman) mengritik buku popular Filsafat Ilmu karya Jujun S Suriasumantri. Misalnya pendapat Jujun tentang ilmu: “Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah diuji secara empiris. Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolute…Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahal perkembangan tertentu.” (hlm. 131-132).
Rumusan Masalah
Bagaimana Definisi politik? 
Bagaimana Konsep Ilmu dan Pengetahuan tentang politik? 


BAB II
PEMBAHASAN
Definisi politik
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).Jika konsep dan definisi ilmu Jujun itu diterapkan untuk ilmu Ushuluddin, ilmu tafsir al Qur’an dan ilmu Ushul Fiqh maka akan menimbulkan kerancuan besar. Sebab pengetahuan bahwa Allah itu Satu adalah ilmu yang mutlak yang didasarkan pada sumber yang mutlak benar, yaitu Al Qur’an. Begitu juga ilmu tentang keharaman babi, zina dan khamr, adalah ilmu yang mutlak juga. Penafsiran bahwa Nabi Isa as tidak wafat di tiang salib, adalah ilmu yang mutlak benarnya, yang tidak berubah sampai akhir zaman.
Jika filsuf Yunani dan banyak filsuf lainnya masih berspekulasi tentang asal mula dan masa depan kehidupan, maka filsafat dalam Islam –yang berdasarkan wahyu- sudah memberikan ilmu yang jelas dan tidak spekulatif. Asal usul manusia sudha sangat jelas, yaitu beradal dari keturunan Adam as. Ketika manusia menolak informasi dari wahyu, maka secara otomatis, mereka akan berspekulasi. Malangnya berspekulasi kemudian diberi nilai yang sangat tinggi, yaitu sedang berfilsafat.
Masalah epistemologi ilmu  -theory of knowledge—ini adalah masalah yang penting. Epistemologi berbicara tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana manusia bisa meraih ilmu. Sementara itu knowledge atau ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Al Quran adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini misalnya tergambar dari penyebutan kata “al ilm” dan derivasinya, mencapai 823 kali.
Menurut Dr Adian, yang diajarkan pertama kali kepada Nabi Adam as adalah ilmu tentang nama-nama benda (al Baqarah 31). Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw berkaitan dengan perintah membaca (iqra’) dan menulis yang disimbolkan dengan pena (al qalam). Wahyu ini pun sudah berbicara tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari ‘al alaq’ (sesuatu yang melekat). Jadi sejak awal Al Quran mengingatkan bahwa proses membaca dan belajar tidak boleh dipisahkan dengan keimanan.
Fakta sejarah membuktikan bagaimana ketinggian peradaban Islam yang dilandasi keilmuan. Seorang sejawaran Irlandia, Tim Wallace-Murphy, dalam bukunya, What Islam did for Us: Understanding Islam’a Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006), menggambarkan kejayaan keilmuan Islam yang kemudian memberikan jasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern di Barat. Ia membuat perbandingan kehidupan peradaban Islam dan peradaban Barat di masa kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol) : “Kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Kristen Eropa adalah singkat, brutal dan biadab, dibandingkan dengan kehidupan yang canggh, terpelajar dan rezim yang toleran di wilayah Muslim Spanyol).”
Kaum Kristen di Eropa, menurut Tim Wallace-Murphy, mengenal ilmu pengetahuan bukanlah langsung dari warisan tradisi Yunani, tetapi melalui buku-buku berbahasa Arab yang ditulis oleh Ilmuwan-ilmuwan Muslim dan Yahudi. Mereka belajar dan menerjemahkan secara bebas pada pusat-pusat pembelajaran Islam di Spanyol, yang disebutnya sebagai “the gratest culture centre in Europe”. Ketika itu Barat menjadikan kampus-kampus di Spanyol sebagai model. Tahun 1263 berdirilah Oxford University, dan tak lama sesudah itu berdiri Cambridge University. “It was well known and respected colleges in al Andalus that became a models on which Oxford and Cambridge were based,”tulis Wallace-Murphy. Jadi kampus-kampus terkenal di Eropa seperti Oxford dan Cambridge didirikan dengan mengambil model kampus-kampus terkenal dan hebat yang ada di Andalusia.
Dr Salmah, Dosen di UPM Serawak Malaysia dalam bukunya Andalusia menyatakan: “Pada zamannya Universiti Cordova telah diperbesar dan dipertingkatkan peranannya sehingga muncul sebagai universiti yang terbaik dan terbesar di dunia. Universiti Cordova ini telah berupaya menandingi Universiti Al Azhar di Kaherah (Kairo) dan Nizamiyah di Baghdad. Ia telah berjaya menarik ramai pelajar sama ada Kristian, Yahudi dan Islam, bukan sahaja dari Andalus tetapi juga dari Negara-negara di Eropah, Afrika dan Asia.”
Universitas Cordova yang letaknya di Masjid Cordova adalah tempat yang paling baik untuk belajar pada saat itu. Saat itu telah ada jurusan astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan undang-undang/hukum. Amir Hasan Siddiqi sebagaimana dikutip Salmah menyatakan: “Pada abad ke-10 M Apabila Cordova (ibu Negara kerajaan Umayah Spanyol) mula menyaingi Baghdad, pasang surut aliran budaya  dan pembelajaran yang bertimbal balik. Semasa abad yang berikutnya, bertambah ramai lagi pelajar dari wilayah Islam Timur dan Kristian Eropah berduyun-duyun datang ke Universiti Cordova, Toledo, Granada dan Seville untuk menimba ilmu dari perigi ilmu pengetahuan yang mengalir ke sana dengan banyak sekali. Karena pentingnya mengetahui kedudukan ilmu secara benar dan semakin maraknya teori-teori barat yang tidak sesuai dengan islam, tetapi di praktekkan oleh muslim. Maka, penulis mengambil judul Max Weber dalam pandangan islam.

Konsep Ilmu dan Pengetahuan
Pengertian ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.
Dari pengertian di atas nampak bahwa ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh. Hatta (1954 : 5), â€Å“pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmuâ€.
2. Kedudukan Ilmu Menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur̢۪an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadist-hadist nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam Al Qur̢۪an , kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur̢۪an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Mahadi Ghulsyani sebagai berikut :
“Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi.
Allah Subhannawata’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan). dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ilmu, dan ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah ulama (orang berilmu)”.
Disamping ayat-ayat Al-Qur’an yang memposisikan ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, Al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu. Dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu menjadi sangat penting, dan Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca, sebagaimana terlihat dari firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.
Ayat-ayat tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, sehingga posisi yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga, yang berarti juga rasa takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh, dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi dengan ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjid menyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal.
Di samping ayat-ayat Al-Qur̢۪an, banyak juga hadist yang memberikan dorongan kuat untuk menuntut Ilmu antara lain hadist berikut :
“Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim†(hadist riwayat Baihaqi).
Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntutâ€Å“ (hadist riwayat Ibnu Abdil Bar).
Dari hadist tersebut di atas, semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat Islam tanpa mengenal batas wilayah.

Islam
Ilmu dan manusia adalah dua realitas yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu merupakan komponen penting dalam mendukung eksistensi manusia karena secara kodrati manusia adalah hewan yang berpikir 
(khayawan an-natiq). Ilmu, sebagai suatu realitas, namun sebaliknya ju-
ga dipengaruhi oleh  cara pandang orang atas ilmu  itu sendiri, yang 
kemudian dikenal sebagai paradigma. Ada beragam cara pandang atas 
ilmu meskipun di dalam dirinya ilmu itu sebenarnya bersifat objektif. 
Paradigma itulah yang akan mengarahkan ilmu tersebut dikembang-
kan. Ilmu, dengan kata lain ada secara as such (objektif) di satu sisi dan 
pandangan orang atas ilmu yang bersifat subjektif, di sisi lain.
Keberadaan ilmuwan, dalam perkembangan keilmuan Islam, sa-
ngat mendapat dukungan dari negara, bahkan negara menjadi salah 
satu inspirator munculnya sikap-sikap ilmiah dalam mengembangkan 
ilmu. Sebagai contoh, pada pemerintahan Muawiyah yang mempu-
nyai keingintahuan yang tinggi tentang galaksi, pelangi, dan tempat 
terbitnya matahari, menstimulasi para ilmuwan seperti Ibnu Abbas un-
tuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sehingga lahirlah ilmu astro-
nomi dan kosmologi.
Perkembangan keilmuan Islam juga distimulasi oleh pernyataan-
pernyataan dalam Al Quran untuk berpikir tentang alam semesta, mi-
salnya terkait  dengan penciptaan alam semesta,  fenomena turunnya 
hujan, penciptaan manusia, dan lain-lain. Berdasarkan penjelasan ter-
sebut tampak jelas cara Islam menempatkan wahyu sebagai sumber, 
sekaligus sarana yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. 
Karakter keilmuan dalam Islam memang khas, berbeda dengan 
karakter keilmuan Barat yang hanya mendasarkan pada rasio dan em-
piri. Intuisi dan wahyu, dalam Islam, menjadi bagian yang tidak terpi-
sahkan dalam ilmu. Karakter  keilmuan  ini  memberikan  warna bagi 
perkembangan keilmuan yang ada. Keilmuan Barat bersifat pragmatis 
materialistis kering dari  refleksi atas nilai yang bersifat spiritual, se-
dangkan keilmuan Islam sangat sarat dengan spiritualitas, bahkan il-
mu dijadikan jalan untuk memahami dan mendekat kepada Tuhan.
Persoalan  epistemologis  keilmuan  Barat  yang  hanya  bersifat 
pragmatis  materialistik  tentu tidak  lepas  dari pandangan  ontologis 
atas ilmu yang tidak mengakui adanya realitas yang metafisik, sebagai-
mana dipahami oleh August Comte bahwa saat ini eranya sudah positi-
vistik. Ilmu sudah meninggalkan era yang teologis maupun metafisis. 
Hanya kebenaran rasional-empirik (ciri posistivisme) yang dapat di-
percaya. Konsekuensi pandangan ini tentu nilai-nilai moralitas  yang 
tidak dengan mudah dapat dipahami secara positivistik ditinggalkan, 
padahal sebenarnya nilai-nilai itu dapat menjadi pertimbangan dalam 
menentukan arah perkembangan ilmu dan bahkan mendasarinya.
Perkembangan  keilmuan  dalam  Islam  memiliki  karakter  yang 
berbeda. Kalau di Barat perkembangan ilmu diawali dengan situasi za-
man yang tidak memungkinkan ilmu berkembang leluasa yaitu pada 
zaman Abad Pertengahan (atau dikenal sebagai zaman kegelapan il-
mu), perkembangan keilmuan Islam tidak mengalami situasi itu. Sejak 
awal Islam mentabukan  umatnya untuk berpikir yang bertentangan 
dengan agama. Berdasarkan ulasan latar belakang di atas, dapat dita-
rik kesimpulan bahwa penelitian ini menunjukkan relevansinya untuk 
dilakukan.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Politik yang sumbernya berasal dari Tuhan secara langsung, yang dalam hal ini objek muncul secara eksistensial dalam diri subjek, keduanya tidak 
terpisah  dan  validitasnya tidak terbatas  dalam  dualisme benar dan 
salah. Shadra memahami bahwa dalam proses mencapai pengetahuan, 
dapat dilalui dengan tiga cara, dimulai dari pengalaman rohani kemu-
dian dicari dukungan rasio, lalu diselaraskan dengan syariat; kedua, di-
awali dari pemikiran rasional kemudian dihayati dengan pengalaman 
rohani, dan setelah itu  dicari dukungan syariat; ketiga,  bermula dari 
ajaran syariat kemudian dirasionalkan, dan seterusnya dipertajam de-
ngan penghayatan rohani (Shadra, 1981: 324). Dapat dipahami bahwa 
pemikiran Mulla Shadra yang merupakan sintesis dari aliran pemikir-
an  terdahulu  menjadikan  pengalaman  intuitif,  proses  rasionalisasi, 
dan  syariat  Islam  sama-sama  berperan  dalam  mencapai kebenaran 
dalam ilmu. Hal tersebut juga diperjelas oleh paparan Seyyed Hossein 
Nasr bahwa dalam pemikiran Shadra terdapat tiga jalan menuju kebe-
naran, yaitu: wahyu (wahy atay syar'), intellection ('aql) dan keterbukaan 
secara mistik (kasyf), yang semuanya itu dapat dipahami dalam aliran 
Al-Hikmah Al-Muta'aliyah (Nasr,1996: 79). Sebagai sintesis dari berba-
gai arus pemikiran, Shadra dalam Al-Hikmah Al-Muta'aliyah mengang-
gap bahwa terdapat pluralitas metode dan sarana mencapai kebenaran 
pengetahuan. Hal tersebut  memperlihatkan bahwa Al-Hikmah  Muta-
'aliyah bukan saja merupakan suatu aliran yang menggabungkan atau 
merekonsiliasikan tiap-tiap aliran sebelumnya, tetapi juga telah meng-
hasilkan suatu pembaharuan yang memperlihatkannya sebagai suatu 
aliran yang baru dan menjadi puncak dalam dunia pemikiran Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa ada karakterisitik yang 
khas antara keilmuan Barat dan Keilmuan Islam baik dari aspek onto-
logis, epistemologis dan aksiologisnya. Perbedaan yang paling menyo-
lok  adalah  beranjak  dari pengakuan  adanya  Tuhan dan tidak.  Dari 
pengakuan eksistensi akan adanya Tuhan ini sangat mempengaruhi 
konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu. 
318     Jurnal Filsafat, Vol. 26, No. 2, Agustus 2016


DAFTAR PUSTAKA
Jones, pip. Pengantar teori teori sosial: yayasan pustaka obor indonesia. 2016
https://www.researchgate.net/publication/307525553_HAKIKAT_ILMU_DALAM_PEMIKIRAN_ISLAM diakses pada tanggal 05 Desember 2018, pukul 15.22
Buku lolitik Islam

Selasa, 04 Desember 2018

 TUGAS AKHIR SEMESTER
METODE DAN STRATEGI KEUMATAN DALAM DAKWAH
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen pengampu : Masudi, S. Fil.I., M.A







Disusun Oleh :
 Risyaf Rizalul Efendi (1740410016)


JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (A)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KUDUS 2018/2019
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dakwah adalah suatu proses penyampaian, ajakan atau seruan kepada orang lain atau kepada masyarakat agar mau memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama secara sadar, sehingga membangkitkan dan mengembalikan potensi fitri orang itu, dan dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Hakekat yang paling penting adalah adanya keyakinan atau kepercayaan bahwa Allah hanya satu dan tiada satu pun yang dapat menyamai-Nya, sehinga mau melaksanakan perintah-Nya. Hukum dakwah adalah wajib ain, dalam arti wajib bagi setiap muslim untuk berdakwah sesuai dengan apa ayang ia ketahui. Obyek dakwah dengan uruturutan kepada diri sendiri, keluarga, sanak keluarga dekat atau sanak famili, sebagian kelompok, kepada seluruh umat manusia.Berdakwah perlu menggunakan metode, yaitu cara dakwah yang teratur dan terprogram secara baik agar maksud mengajak melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna. Metode dakwahnya dengan Hikmah, Mawizhah Hasanah, Berdiskusi atau Tukar Fikiran Dengan Cara Yang Baik, menyam-paikan sautu kisah, perumpamaan, tanya jawab, dan keteladanan yang baik.
Dengan kata lain dakwah adalah ilmu yang mempelajari metode cara serta tujuan dakwah termasuk pilar-pilar dan sejarah serta media yang dipakai dalam menyampaikan dan menyebarkan ajaran agama Islam guna untuk mewujudkan tatanan masyarakat Islam yang baik.  tujuan utamanya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat melalui penyebaran dan Pengamalan ajaran agama Islam,  mengetahui hakikat konsep dakwah Islam,  mengetahui ayat ayat atau hadis nabi yang bertemakan dakwah,  Mengetahui berbagai metode dan dakwah dan dalam perkembangannya,   menjalankan kegiatan dakwah dengan memperhatikan metode dan teknik dakwah yang tepat untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien.
Eksistensi dakwah islam usianya cukup lama dan sebanding tuanya dengan manusia dalam memeluk ajaran agama samawi.  kita sering mendengar cerita Bagaimana pertarungan antara Putra Adam Yani qobil dan Habil.  dalam cerita tersebut ada pertarungan antara kebaikan dan kejahatan yang pada akhirnya dimenangkan oleh kebaikan.  bahkan semakin jelas cerita tentang dakwah Ketika Nabi Nuh mengajak umat dan keluarganya untuk memeluk agama samawi yang di bawahnya.
setelah masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang terakhir ditutup oleh kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Tholib selanjutnya pemerintahan Islam dilanjutkan dengan berdirinya Dinasti Umayyah.  sistem pemerintahan demokratis yang dibangun oleh khulafaurrasyidin berubah menjadi sistem pemerintahan monarki atau kerajaan sebagaimana yang diterapkan oleh Bani Umayyah dalam memimpin rakyat.  setelah kepemimpinan khalifah Ali Bin Abi Thalib terjadi perpecahan pada umat Islam yang dahulunya bersifat kekhalifahan menjadi dinasti-dinasti.


RUMUUSAN MASALAH
Bagaimana Strategi Keumatan Dalam Dakwah
Bagaimana Metode Keumatan Dalam Dakwah
ApaPengaruh Keumatan Dalam Dakwah
TUJUAN
Untuk mengetahui bagaimana strategi keumatan dakam dakwah
Untuk mengetahui bagaimana metode keumatan dalam dakwah
Untuk mengetahui pengaruh keumatan dalam dakwah

BAB 1
PEMBAHASAN
Strategi Keumatan Dalam Dakwah
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan management untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencpai tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana tekhnik (cara) operasionalnya.
Dengan demikian strategi dakwah merupakan perpaduan dari perencanaan (planning) dan management dakwah untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam mencapai tujuan tersebut strategi dakwah harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara tekhnik (taktik) harus dilakukan, dalam arti kat bahwa pendekatan (approach) bias berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi.
Dengan demikian strategi dakwah, baik secara makro maupun secar mikro mempunyai funsi ganda, yaitu :
a. Menyebarluaskan pesan-pesan dakwah yang bersifat informative, persuasive dan instruktif secara sistematik kepada sasaran untuk memperoleh hasil optimal.
b. Menjembatani "Cultur Gap" akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilaii-nilai dan norma-norma agama maupun budaya.
Bahasan ini sifatnya sederhana saja, meskipun demikian diharapkan dapat menggugah perhatian para ahli dakwah dan para calon pendakwah yang sedang atau akan bergerak dalam kegiatan dakwah secara makro, untuk memperdalaminya.
Jika kita sudah tau dan memahami sifat-sifat mad'u, dan tahu pula efek apa yang kita kehendaki dari mereka, memilih cara mana yang kita ambil untuk berdakwah sangatlah penting, karena ini ada kitannya dengan media yang harus kita gunakan. Cara bagaimana kita menyampaikan pesan dakwah tersebut, kita bias mengambil salah satu dari dua tatanan di bawah ini :
a. Dakwah secara tatap muka atau pace to pace dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah laku behavior change dari mad'u.  sewaktu menyampaikan memerlukan umpan balik langsung.  kelemahannya madu yang dapat diubah tingkah lakunya relatif sejauh bisa berdialog dengan nya.
b. Dakwah melalui media pada umumnya banyak digunakan untuk dakwah informatif tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku.  kelemahannya tidak persuasif dan kelebihannya dapat mencapai Mato dalam jumlah yang besar dan dalam waktu yang sangat singkat.
Pada masa modernitas strategi yang digunakan tentunya berbeda dengan strategi yang digunakan pada zaman dahulu.  dakwah modernitas adalah dakwah yang dilaksanakan dengan memperlihatkan unsur-unsur penting dakwah tersebut,  kemudian subjek atau juru dakwah menyesuaikan materi, metode,   dan media dakwah dengan kondisi masyarakat modern sebagai objek dakwah yang mungkin saja situasi dan kondisi yang terjadi di zaman modern terutama bidang keagamaan,  tidak pernah terjadi pada zaman sebelumnya terutama pada zaman klasik.
dengan demikian berarti dakwah di era modern adalah dakwah yang pelaksanaannya sesuai dengan kondisi dan keadaan masyarakat modern baik dari segi materi, metode,  dan media yang dapat digunakan dalam berdakwah.  sebab mungkin saja materi yang disampaikan itu bagus tetapi media yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat modern,  maka dakwah akan mengalami kegagalan atau tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.  begitu pula sebaliknya mungkin saja media atau metode yang digunakan sesuai dengan kondisi masyarakat modern akan tetapi materi yang disampaikan kurang tepat apalagi Bila tampilan kemasanya kurang menarik juga dakwah akan mengalami kegagalan.
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan dakwah yang efektif di era modern maka juru dakwah sayogya nya adalah orang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dalam menyampaikan materi atau isi pesan dakwah yang aktual dengan menggunakan metode yang tepat dan relevan dengan kondisi masyarakat modern serta menggunakan media komunikasi yang sesuai dengan kondisi dan kemajuan masyarakat modern yang dihadapinya.
Metode Keumatan Dalam Dakwah
Metode Dakwah yaitu cara-cara penyampaian dakwah, baik individu, kelompok, maupun masyarakat luas agar pesan-pesan dakwah tersebut mudah diterima. Metode dakwah hendaklah menggunakan metode yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi madu sebagai penerima pesan-pesan dakwah. Sudah selayaknya penerapan metode dakwah mendapat perhatian yang serius dari para penyampai dakwah.
Berbagai pendekatan dakwah baik dakwah bi al-lisan, dakwah bi-al qalam (dakwah melalui tulisan, media cetak), maupun dakwah bi al-hal (dakwah dengan amal nyata, keteladanan) perlu dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan modernitas. Demikian pula penggunaan metode dakwah dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan mujadalah.
Metode dakwah terdiri dari tiga cara sebagai berikut:
dakwah bi Al-Lisan
Maka dakwah bi al-lisan dapat dinyatakan efektif bila mana berikut ini :
berkaitan dengan acara-acara ritual seperti khutbah Jum'at dan hari raya.  dikatakan efektif karena Ia merupakan bagian dari ibadah selagi isi dan sistematikanya menarik serta rentang waktunya ideal.  karena sering terjadi bila audience bosan mendengar karena tidak terpenuhinya salah satu syarat diatas maka akan bubar meninggalkan khatib.  hal ini sering terjadi bila salat jemaah tersebut dilakukan pada tempat yang terbuka.
kajian atau materi yang disampaikan berupaya tuntutan praktis dan disampaikan kepada jamaah yang terbatas baik jumlah maupun luasnya ruangan.  misalnya materi tentang perawatan jenazah,  cara berwudhu,  cara salat yang benar dan sebagainya.
disampaikan dalam konteks sajian terprogram serta sumber kajian.  dikatakan efektif karena bahannya dapat diperoleh dan dipelajari lebih dalam oleh objek dakwah.  dan sistem penyampaian maupun penyerapan materinya oleh audience atau objek dakwah secara bersambung sekaligus menghindari duplikasi materi yang bisa berakibat membosankan audience.
disampaikan dengan sistem dialog dan bukan monologis sehingga audience dapat memahami materi dakwah secara tuntas setidak-tidaknya metode ceramah masih dapat dilakukan efektif manakala diiringi dengan tanya jawab dua arah.  manfaat lain di samping lebih komunikatif juga lebih Semarak dan lebih semangat dan lebih menarik.
dakwah bi al-hal
Dakwah Bi Al hal adalah dakwah dengan perbuatan nyata seperti yang dilakukan Rasulullah terbukti bahwa pertama kali tiba di Madinah yang dilakukan adalah pembangunan Masjid Quba,  mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin dalam ikatan ukhuwah islamiyah dan seterusnya.  dan dakwah Bi Al hal ini ternyata sangat efektif
Akan tetapi sebagian besar umat Islam kurang memperhatikan efektifitas dakwah dengan cara ini,  sehingga mereka lebih sulit berdakwah di Al lisan.  padahal hasilnya tidak maksimal dan sangat lamban. Berbeda dengan dakwah Bi Al hal yang menghasilkan karya nyata yang mampu menjawab hajat hidup manusia misalnya menyantuni anak yatim piatu,  pembayaran SPP anak-anak yang kurang mampu,  memberikan pelayanan kesehatan,  membagi-bagikan sembako,  obat-obatan gratis,  membantu korban bencana alam dan lain sebagainya.
Contoh lain dari metode dalam dakwah bi al-hal adalah metode kelembagaan, yaitu pembentukan dan pelestarian norma dalam wadah oragnisasi sebagai instrumen dakwah. Untuk mengubah perilaku anggota melalui isntitusi. Pendakwah harus melewati proses fungsi- fungsi manajemen yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakkan (actuating), dan pengendalian (controlling).[12]
Keunggulannya yaitu : Dai dapat mengetahui langsung apa permasalahan madunya tentang agama, dapat menaungi umat Islam dari kebutaan agama, dan materi dapat mengena langsung, sesuai dengan kebutuhan madu. Kelemahannya yaitu : Masyarakat jarang yang menggunakan lembaga tersebut, memerlukan keterampilan yang lebih, dan mengeluarkan biaya yang besar.

dakwah bi al-qalam
Dakwah Bi Al Qalam yaitu menyampaikan materi dakwah dengan menggunakan metode tulisan.  termasuk dalam jenis ini adalah buku-buku, majalah, surat kabar, risalah, bulletin, brosur dan lain jenisnya.   Dalam metode ini hendaknya disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa yang lancar dan mudah dicerna serta menarik minat publik baik mereka yang awam maupun kaum terpelajar.
Penggunaan nama “Kalam” merujuk kepada firman Allah SWT, “Nun, perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya” (Q.S. Al-Qolam:1).
Maka, jadilah Dakwah Bil kalam sebagai konsep “dakwah melalui pena”, yaitu dengan membuat tulisan di media massa. Karena menyangkut tulisan, Dakwah Bil kalam bisa diidentikkan dengan istilah “Dawah Bil Kitabah” (dakwah melalui tulisan).
Metode ini telah diaplikasikan pada zaman Rasulullah. Karena, pada saat itu, tradisi tulis menulis sudah berkembang. Terbukti ketika Rasulullah menerima wahyu, beliau langsung memerintahkan kepada para sahabat yang memiliki kemampuan untuk menulis wahyu yang diterimanya. Padahal saat itu secara teknis sulit untuk melakukan tulis-menulis disebabkan belum tersedianya sarana seperti kertas dan alat tulis pena, disamping budaya yang kurang mendukung.
Keunggulannya yaitu : Materi dapat mengena langsung dan dapat di kenang oleh madu, seandainya lupa bisa di lihat dan di pelajari lagi materi dakwahnya, dan dapat di pelajari dan di hafal. Kelemahannya yaitu : Mengeluarkan biaya besar, tidak semua orang bisa membaca, karena sasaran dakwah tidak hanya pada anak remaja dan dewasa, anak kecil dan orang tua pun menjadi sasaran dakwah, dan tidak sedikit orang yang malas membaca, mereka lebih senang mendengarkan dan melihat.

Pengaruh Keumatan Dalam Dakwah
Keumatan dakwah dapat kita artikan sebagai bentuk-bentuk dari lembaga dakwah di Indonesia.
secara harfiah etimologi kata dakwah mengandung arti antara lain aja kan panggilan seruan permohonan atau 2 pembelaan dan lain sebagainya.  secara konseptual dakwah diarahkan pada usaha perubah sikap beragama dari masyarakat menerima dakwah dan dalam pelaksanaannya dakwah dilakukan dengan jiwa tulus serta ikhlas.  dalam al-qur'an terdapat ayat ayat Alquran yang menggambarkan idealisme dakwah yang bertujuan agar manusia mengikuti jalan lurus yang telah digariskan oleh Allah sehingga mereka selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Berdasarkan surat keputusan Menteri Agama nomor 6 Tahun 1979 tentang susunan organisasi departemen agama lembaga dakwah dimaksudkan semua organisasi Islam baik yang sifatnya lokal local berlevel daerah atau nasional.  secara terperinci dalam keputusan menteri agama tersebut akan dijelaskan bahwa lembaga dakwah meliputi empat kelompok organisasi yaitu.
Badan Dakwah
Dadan dakwah adalah organisasi Islam yang bersifat umum yang memungkinkan melaksanakan berbagai kegiatan seperti masalah pendidikan, ekonomi, keterampilan sosial dan lain-lain.  organisasi ini yang selama ini sering disebut sebagai organisasi Islam adalah beraneka ragam.  dari segi kelahirannya banyak yang sudah berumur cukup tua seperti Muhammadiyah, Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama,   tetapi terdapat pula yang cukup mudah seperti majelis Dakwah Islamiyah.

Majlis Talim
Majelis Taklim adalah organisasi penyelenggara pendidikan non-formal di bidang agama Islam untuk orang dewasa.  kelompok yang jumlahnya sangat besar di setiap kota atau Kabupaten.
PengajiaN
Pengajian dengan pengajian dimaksudkan adalah organisasi umat Islam yang mengolah pengajian yakni pendidikan non-formal bidang agama Islam untuk anak-anak. Pengajian biasanya diadakan di rumah-rumah atau di masjid-masjid.
Organisasi kemakmuran masjid dan musholla
Organisasi kemakmuran masjid dan mushola dimaksudkan adalah organisasi yang dibentuk untuk mengelola masjid atau mushola dan melaksanakan berbagai kegiatan di dalam masjid atau mushola seperti berikan perpustakaan,  kesehatan dan koperasi.  diperkirakan bahwa untuk tiap masjid atau mushola akan ada organisasi yang mengelolanya.
Peran lembaga dakwah dalam masyarakat dengan pengorganisasian kegiatan-kegiatan dakwah yang dirinci akan memudahkan pemilihan tenaga-tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut serta sarana atau alat yang dibutuhkan.  pengorganisasian tersebut akan mendatangkan keberuntungan berupa terpadu dunia berbagai kemampuan dan keahlian dari Pada pelaksanaan dakwah dan semuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditentukan.
peran lainnya sebagai lembaga dakwah adalah.
menebar pemikiran dan dakwah.
mengembangkan kemampuan SDM para kader dakwah.
perlembagaan yang profesional dan kompeten pada bidangnya.
menghimpun tokoh dan pakar yang siap memberikan kontribusi dan pemikiran serta pengaruh bagi kepentingan dakwah.
melayani dan melindungi serta memberdayakan masyarakat.
Lembaga dakwah di Indonesia
lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)
Lembaga Dakwah Islam Indonesia merupakan organisasi kemasyarakatan yang resmi dan legal yang mengikuti ketentuan undang-undang nomor 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan serta pelaksanaannya meliputi peraturan pemerintahan PP Nomor 18 pada tahun 1986.  LDII  bertujuan untuk meningkatkan kualitas peradaban hidup harkat dan martabat dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara serta turut dalam pembangunan manusia seutuhnya yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa guna terwujudnya masyarakat madani yang demokratis dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila yang diridhoi oleh Allah.
Majlis Tafsir AL-Quran
Majelis Tafsir Alquran adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah islamiyah yang berkedudukan di Surakarta.  MT didirikan oleh almarhum Ustad Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tanggal 19 September 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali ke Alquran.  sesuai dengan nama dan tujuannya pengkajian Alquran dengan tekanan dan pemahaman serta Penghayatan dan Pengamalan Alquran menjadi kegiatan utama Majelis Tafsir Alquran.  dengan kata lain bahwa yang dilakukan di m.t. bukanlah menafsirkan Alqur'an melainkan mengkaji kitab-kitab tafsir yang ada dalam rangka pemahaman Alquran agar dapat dihayati dan selanjutnya diamalkan.
Nahdhatul Ulama
NU merupakan organisasi Islam sosial keagamaan atau jam'iyah Diniyah Islamiyah yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 atau pada tanggal 16 Rajab 1334 H.   dari sisi lain salah satu pemicu berdirinya NU pada tahun 1926 yang dipelopori oleh para ulama tradisional sebenarnya tidak lain adalah akibat konflik epistomologis antara ulama-ulama tradisional yang ingin melestarikan tradisi bermazhab atau model Islam kultural melawan tokoh-tokoh Islam modernis yang cenderung ingin membersihkan Islam dari budaya lokal.
Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan dilingkungan tradisi keraton Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh Ahmad Dahlanyang dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869. Muhammadiyah bermakna pengikut Muhammad atau umat Muhammad.
Keumatan dalam bentuk lembaga-lembaga dakwah Indonesia dapat mempermudah agama Islam dalam penyebar luasannya. Mereka sama-sama menggunakan ideologi ahlussunah waljamaah walaupun memiliki pemikiran yang berbeda. Namun adanya perbedaan tersebut tidak pemperpecahkan negara Indonesia sebagai agama yang satu kesatuan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan management untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencpai tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana tekhnik (cara) operasionalnya.
Dengan demikian strategi dakwah merupakan perpaduan dari perencanaan (planning) dan management dakwah untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam mencapai tujuan tersebut strategi dakwah harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara tekhnik (taktik) harus dilakukan, dalam arti kat bahwa pendekatan (approach) bias berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi.
Metode Dakwah yaitu cara-cara penyampaian dakwah, baik individu, kelompok, maupun masyarakat luas agar pesan-pesan dakwah tersebut mudah diterima. Metode dakwah hendaklah menggunakan metode yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi madu sebagai penerima pesan-pesan dakwah. Sudah selayaknya penerapan metode dakwah mendapat perhatian yang serius dari para penyampai dakwah.
Berbagai pendekatan dakwah baik dakwah bi al-lisan, dakwah bi-al qalam (dakwah melalui tulisan, media cetak), maupun dakwah bi al-hal (dakwah dengan amal nyata, keteladanan) perlu dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan modernitas. Demikian pula penggunaan metode dakwah dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan mujadalah.
Keumatan dakwah dapat kita artikan sebagai bentuk-bentuk dari lembaga dakwah di Indonesia.
secara harfiah etimologi kata dakwah mengandung arti antara lain aja kan panggilan seruan permohonan atau 2 pembelaan dan lain sebagainya.  secara konseptual dakwah diarahkan pada usaha perubah sikap beragama dari masyarakat menerima dakwah dan dalam pelaksanaannya dakwah dilakukan dengan jiwa tulus serta ikhlas.  dalam al-qur'an terdapat ayat ayat Alquran yang menggambarkan idealisme dakwah yang bertujuan agar manusia mengikuti jalan lurus yang telah digariskan oleh Allah sehingga mereka selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Daftar Pustaka
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (hxxp://smacepiring.wordpress.com/)
MODERASI ISLAM MENGENAI PREMPUAN KRISTEN BERJILBAB

Di Susun Guna Mengerjakan Tugas Mata Kuliah Sosiologi Dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu: MAS’UDI, S.Fil.I., M.A













Disusun oleh:
Zainul Ibad (1740410031)




PRODI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (PMI)
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KUDUS
TAHUN 2018



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Toleransi antar umat beragama merupakan salah satu bentuk dari moderasi dalam beragama. Islam merupakan agama yang modernitas. sering kali kita melihat perbedaan dari soal agama, ras, bangsa. Agama sering kali menjadi sebuah perbedaan, dan sebab agama kita merelakan untuk bertingkah seperti orang lain. Semisal seperti seorang wanita Kristen yang rela menggunakan kebiasaan orang muslim, seperti berjijab, tidak menggunakan pakaian ketat supaya agama yang di anutnya tidak di perbincangkan.
Perempuan Kristen Langsa seringkali dihadapkan sebuah dilema. Di satu pihak, seorang perempuan Kristen yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di instansi pemerintah di Langsa, hampir tidak punya pilihan untuk tampil tanpa berjilbab. Sebab, regulasi syariat Islam yang menyebutkan keharusan instansi pemerintah membudayakan busana Islami. Mereka dituntut beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Di lain pihak, mereka juga tidak mungkin melakukan konversi agama lantaran agama merupakan urusan keyakinan. Saya akan memperlihatkan bahwa bagi sebagian perempuan Kristen Langsa, berjilbab merupakan identitas antara yang hanya ditampilkan secara temporer. Fenomena perempuan Kristen berjilbab bukan sebuah penjati-dirian sesungguhnya, melainkan sebuah strategi kreatif untuk menjadi Kristen dengan cara Aceh.
Rumusan Masalah
Apa maksud dari moderasii lslam
Bagaimana pandangan orang Kristen dalam pemakaian jilbab
Bagaimana pandangan orang islam mengenai orang kristeen yang memakai jilbab
Bagaimana pandangan moderasi islam mengenai kasus orang non islam yang memakai jilbab

BAB II
PEMBAHASAN

Moderasi Islam
Moderasi islam dapat dikatakan dengan menghadirkan islam dalam kehidupan secara damai dengan menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sesama umat beragama. Moderasi merupakan jalan pertengahan, dan ini sesuai dengan inti ajaran Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, umat Islam disebut ummatan washathan, umat yang serasi dan seimbang, karena mampu memadukan dua kutub agama terdahulu, yaitu Yahudi yang terlalu membumi dan Nashrani yang terlalu melangit. 
Hal ini terbukti dengan adanya perpindahan arah kiblat yang asalnya menghadap Masjidil Aqsha yang ada di Palestina berpindah menjadi menghadap Masjidil Haram yang ada di Makkah. Ini membuktikan kemandirian dan kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak terpengaruh oleh agama terdahulu yang mengagungkan Masjidil Aqsha. Dengan tegas hal ini diungkapkan oleh Alquran dalam surat al-Baqarah ayat 143: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.
Dengan demikian, moderasi sama pengertiannya dengan al-washatiyyah. sebagaimana diungkapkan dalam ayat di atas. Menurut Ibnu Faris, sebagaimana dikutip oleh Muchlis M. Hanafi (2009), bahwa al-washatiyyah berasal dari kata wasath yang memiliki makna adil, baik, tengah, dan seimbang. Bagian tengah dari kedua ujung sesuatu dalam bahasa Arab disebut wasath. Kata ini mengandung makna baik seperti dalam ungkapan hadis, “Sebaik-baik urusan adalah awsathuha (yang pertengahan)”, karena yang berada di tengah akan terlindungi dari cela atau aib (cacat) yang biasanya mengenai bagian ujung atau pinggir.






Pandangan Orang Kristen Dalam Pemakaian Jilbab
Pandangan orang percaya dalam menyingkapi atau menanggapi sesuatu hal yang ada haruslah berdasarkan firman Allah itu sendiri yakni terdapat dalam Alkitab. Beberapa ayat yang terdapat dalam Alkitab juga turut memberikan pandangan bagaimana seharusnya kaum percaya dalam menanggapi jilbab menurut Kristen ini. Pandangan jilbab menurut Kristen yakni: Bertudung kepala atau berjilbab merupakan hal yang lumrah untuk dilakukan pada jaman dahulu dan hal ini juga dapat ditemukan dalam Alkitab. Menutup kepala harus dilakukan oleh wanita karena untuk menjaga agar rambutnya yang panjang tidak terlihat apalagi ketika berdoa kepada Allah. Dalam 1 koristus 11: 4-6 mengatakan “ tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung , menghina kepalanya.  Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya.
Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya”. Kenapa hanya kaum wanita saja yang harus menggunakan tudung kepala dan bagi kaum pria jika hal ini dilakukan adalah penghinaan? Semua ini kembali kepada posisi antara Allah, pria dan wanita. Seperti yang diketahui sejak semula Allah menciptakan laki-laki terlebih dahulu dan perempuan kemudian guna menemani Adam di taman eden agar tidak merasa sendiri.  Kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus dan kepala dari perempuan adalah laki-laki serta kepala dari Kristus adalah Allah sendiri, oleh karena itu wanita perlu menggunakan tudung sebagai penghormatan atas kedudukan laki-laki dan Kristus yang dikepalai oleh Allah.

Partisipan penelitian umumnya tidak berjilbab sebelum penerapan syariat. Hanya beberapa orang saja yang berjilbab sejak sebelum tahun 2000. Gurniaty mengaku pertama kali berjilbab tahun 1999. Tapi dia rutin berjilbab sejak 2007.797 Riama, berjilbab beberapa tahun sebelum Gurniaty, ketika dirinya menjabat Wakil Kepala Sekolah di tempat kerja yang masih dia tekuni hingga sekarang.798 Dina berjilbab ketika di sekolahnya didatangi sekelompok orang tidak dikenal melakukan razia perempuan tidak berjilbab.799 Yuli, pada tahun pertama diterima sebagai PNS mengenakan jilbab, kendati selama delapan tahun terakhir dia memutuskan tidak berjilbab.800
Gambaran statistik perempuan Kristen berjilbab di Langsa. Namun perlu dicatat bahwa respon perempuan Kristen Langsa terhadap jilbab dan peraturan berbusana Islami sesungguhnya tidak seragam. Saya menemukan paling tidak tiga kategori respon perempuan Kristen terhadap peraturan busana Islami dan fenomena berjilbab. Pertama, tidak mengenakan jilbab di lingkungan kerja mereka. Kedua, dapat memahami tetapi terkadang mempersoalkan kenapa kebijakan seperti itu juga diberlakukan pada non-Muslim. Ketiga, perempuan yang sepenuhnya memahami kebijakan tersebut dan melihat dampaknya sebagai konsekwensi menjadi bagian dari warga Aceh. Mereka berjilbab seperti umumnya muslimah Langsa.
Terkait kategori pertama, sedikitnya ada enam perempuan Kristen Langsa yang berprofesi sebagai guru memilih tidak berbusana Islami di tempat bekerja antara lain Yuni, Yuli, Netty, Junia, Makroy dan Sania. Mereka memilih tampil dengan penjati-dirian yang mereka inginkan. Beberapa diantaranya meminta izin pimpinan untuk tidak berjilbab. Junia misalnya, guru SLTP, meminta izin kepada atasannya di Dikjar (Dinas Pendidikan dan Pengajaran) agar diizinkan tidak berjilbab. 
Kelompok kedua merupakan mayoritas sikap perempuan Kristen Langsa. Dari 21 perempuan pegawai negeri atau BUMN, saya menemukan 14 diantaranya dikelompokkan kategori kedua. Mereka berjilbab ketika berada di tempat kerja, tetapi ketika di luar tempat kerja, seperti pada saat jalan-jalan ke kota atau berpergian ke pasar, tidak mengenakan jilbab. Dina, seorang guru SMA 2 Langsa mengatakan bahwa dirinya berjilbab hanya ketika di sekolah.
Pandangan Orang Islam Terhadap kristiani Yang Memakai Jilbab
Jilbab merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah. Ia bukanlah sekedar identitas atau menjadi hiasan semata dan juga bukan penghalang bagi seorang muslimah untuk menjalankan aktivitas kehidupannya. Menggunakan jilbab yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dilakukan oleh setiap muslimah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, puasa yang diwajibkan bagi setiap muslim. Ia bukanlah kewajiban terpisah dikarenakan kondisi. 
memakai jilbab adalah kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Dan dalam pemakaiannya kita juga harus memperhatikan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti telah disebutkan pada artikel sebelumnya, terdapat beberapa persyaratan dalam penggunanan jilbab yang sesuai syari’at. Semoga Allah memudahkan penulis memperjelas poin-poin yang ada dalam artikel sebelumnya.
Pandangan dari umat muslim terhadap umat nonmuslim yang memakai hijab tidak seharusnya itu didassarkan pada agama, melainkan dengan dasar toleransi. Mungkin mereka mggunakan hijab karena memiliki banyak factor sepeerti terikat fashion, pekerjaan, lingkungan, dan sebagainya.
moderasi islam mengenai kasus orang non islam yang memakai jilbab
Moderasi islam dapat dikatakan dengan menghadirkan islam dalam kehidupan secara damai dengan menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sesama umat beragama. jilbab, dalam pandangan islam merupakan atauran tentang menutup aurot. Wanita muslim di syari’atkan (diwajibkan) menggenakan hijab, jikalau tidak maka akan memdapatkan balasan kelak. Berbeda dengan non nuslim, mereka memakai  jilbab boleh-boleh saja, tidak ada larangan maupun ancaman dalam memakai maupun tidak memakainya,
Perbedaan pendapat tidak menjadi permasalahan dalam kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Dalam menjunjung tinggi toleransi antar umat berragama tidak harus ada di antara mereka yang mempermasalahkan adanya perbedaan. Indonesia merupakan Negara bhineka tunggal ika. Ynag memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia merupakan negara ynag demokratis, sudah sepantasnya kita harus saling menghargai satu sama lain.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya moderasi islam merupakan jalan pertengahan yang menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sesame umat beragama, sehingga umat islam mampu menjadi umat yang seimbang, karena memadukan antar agama, tidak membeda-bedakan keyakinan atau agama.
Perbedaan agama maupun pendapat tidak menjadi permasalahan dalam kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Dalam menjunjung tinggi toleransi antar umat berragama tidak harus ada di antara mereka yang mempermasalahkan adanya perbedaan. Indonesia merupakan Negara bhineka tunggal ika. Ynag memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia merupakan negara ynag demokratis, sudah sepantasnya kita harus saling menghargai satu sama lain.
Jilbab merupakanpenutup aurat bagi agama islam, dan diyakini secara sakral. Sedangkan dari agama lain, jilbab merupakan fashion maupun, dan lain sebagainya.
Itu semua adalah hak dan pilihan dari individu, kita sebagai umat beragama, harus senantiasa menjaga toleransi, bukan karena persoalan hijab menjadikan pertikaian. Seyokyanya manusia merupakan ceptaan tuhan, yang harus senantiasa menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing, jangan saling menghina, maupun mencemooh.






DAFTAR PUSTAKAA
Ansor, Muhammad. 2014. Jurnal salib di balik hijab: negoisasi perempuan krister berjilbab si langsa, Aceh. Dalam paper proceding AICIS XIV, buku 3 Subtema: Nusantara Islamic Civilization: value, history, and
http://m-republika-co-id.cdn.amproject.org
Read more https://aslibumiayu.net/5202-seperti-apakah-jilbab-yang-dibenarkan-dalam-islam.html

Perteorian sosiologi klasik : menganalisis modernitas
MAKALAH
Di susun Guna Memenuhi Tugas UAS teori-teori sosial
Dosen pengampu : Mas’udi, S. Fil.I., M.A






Oleh :
MUHAMMAD JAUHAR FANNANI (1740410003)
PMI/A3

--------------------------------------------------------------------------------------------
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  KUDUS
2018





BAB I
PENDAHULUAN
Sosiologi adalah ilmu yang terbilang cukup baru dibanding ilmu lainnya dalam ilmuilmu sosial. Diperkenalkan pertama kali oleh Auguste Comte yang membuat namanya dikenal
sebagai ‘Bapak Sosiologi’ dan dibakukan menjadi disiplin ilmu pengetahuan berkat jasa besar
Emile Durkheim. Hingga kini sosiologi menjadi ilmu yang sangat populer seiring dengan
makin rumitnya problematika yang muncul dalam masyarakat di abad 21 ini.
Mempelajari sosiologi tidak terlepas dari berbagai teori yang menjadi landasan utama
untuk menganalisis perubahan masyarakat dan berbagai gejala sosial yang muncul akibat
perubahan tersebut.
Rumusan masalah:
1.apa itu sosiologi klasik
2.apa itu modernitas
3.hubungan antara sosiologi klasik dengan modernitas
Tujuan:
1.untuk mengetahui tentang sosiologi klasik
2.untuk mengetahui tentang modernitas
3.untuk mengetahui hubungan antara sosiologi klasik dengan modernitas
BAB II
PEMBAHASAN
SOSIOLOGI KLASIK
Sosiologi adalah disiplin ilmu yang mencoba menjelaskan aspek-aspek kehidupan manusia, maka sosiologi juga peka untuk melakukan pembahasan tentang nilai dan moral yang terlibat dalam berteori. Pada umumnya argumentasi kebebasan nilai dalam teori sosiologi telah berjalan, yang mana agar dapat ditemukan sesuatu dan mengkonsepsikan sesuatu itu, para sosiolog perlu menghilangkan prasangka pribadi mengenai hubungan sosial dalam studinya. Pernyataan ini tidak berarti bahwa dia harus tidak menjadi seorang yang  bermoral. Tetapi untuk tujuan deskripsi dan teori ini bila seseorang ingin mengetahui yang sebenarnya maka dia harus mengobservasikan, menguraikan, dan menggunakan teori dengan tidak berat sebelah. Bila kejujuran tidak dipakai sepenuhnya, apa yang dianggap seharusnya terjadi dapat ia nyatakan sebagai sesuatu yang sesungguhnya, dogma akan turut lebur dalam  pemikirannya. Sosiologi sejak awal perkembangannya dipermulaan abad 19 hingga dewasa ini, telah mengalami perubahan yang terus menerus. Ilmu yang oleh Auguste Compte disebut dengan “Sosial Physics” ,dikenal dengan nama sosiologi, berkembang terus seiring perubahan yang timbul dalam masyarakat. Adalah Compte, bapak pendiri sosiologi yang mengatakan ada 2 cara untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan yaitu secara dogmatis dan secara historis. Mempelajari ilmu pengetahuan secara dogmatis akan membawa kita pada pemahaman teori-teori ilmu yang bersangkutan, sedangkan mempelajarinya secara historis memaksa kita menelusuri awal mula, konteks situasi di mana teori itu lahir. Pernyataan di atas ini sesungguhnya juga berawal dari banyak pendapat para sarjana di lapangan ilmu pengetahuan sosial bahwa tujuan yang fundamental dari ilmu-ilmu sosial termasuk sosiologi adalah menerangkan tentang kenyataan-kenyataan perubahan sosial. Bahkan khusus untuk sosiologi itu sendiri ada yang menyatakan ilmu ini adalah ilmu tentang krisis sosial. Dinyatakan demikian karena pada kenyataannya, sejak awal pertumbuhannya hingga perkembangannya dewasa ini sosiologi cenderung memperoleh bentuk-bentuk baru selaras dengan krisis sosial. Charles A Ellwood, di dalam bukunya yang terkenal A History of Sosial  Philosophy menyebut adanya sebuah teori yang dikenal dengan “the crisis of thought atau Teori Krisis Pemikiran. Menurut teori ini, orang hanya akan berfikir bila mana timbul  persoalan-persoalan, bila mana kebiasaan-kebiasaan lama kita tidak lagi berfungsi dan kita membutuhkan kebiasaan-kebiasaan baru. Charles Ellwood mengambil contoh krisis yang menimbulkan lahirnya pemikiran- pemikiran di lapangan ilmu kemasyarakatan ketika Athena, negara kota di abad Helleni yang angkuh itu berantakan ketika dikalahkan oleh Sparta, suatu bangsa yang oleh orang Athena dianggap bangsa yang terbelakang.Jadi jelaslah bahwa sosiologi adalah merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Dan karena pada kenyataannya tiada satupun masyarakat yang tidak mengalami  perubahan, maka sosiologi akan terus berkembang di dalam masyarakat. Teori-teorinya akan terus berkembang dengan segala konsekuensinya, yang mungkin akan terlempar dari  peredaran atau mungkin juga akan bertahan. Sementara itu pula akan muncul teori-teori baru yang dihasilkan seiring dengan perubahan kemasyarakatan yang terjadi. Untuk membuktikan hal itu mungkin kita bisa melacaknya jauh ke belakang pada  permulaan abad ke 19 dimana terjadi perubahan yang sangat cepat dan hebat di dalam masyarakat akibat terjadinya revolusi industri dan juga terjadinya revolusi sosial di Eropa. Sebuah perubahan yang memperkenalkan kekuasaan masyarakat dan kekuasaan massa. Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi pada masa itu telah menghasilkan polarisasi yang sangat hebat antara kaum pemilik modal dengan mereka yang tidak memiliki. Berkembangnya industri-industri di daerah perkotaan telah mengakibatkan mengalirnya urbanisasi dari daerah pedesaan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Tetapi kemudian kenyataannya menunjukkan telah terjadi semacam penghisapan oleh kaum majikan yakni para pemilik modal yang menguasai indusri-industri tersebut terhadap para  buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Perubahan ini kemudian menghasilkan berbagai krisis sosial dengan meningkatnya kriminalitas dan kemiskinan rakyat jelata yang tidak punya modal. Di dalam situasi sedemikian inilah sosiologi mencatat tampilnya teori-teori yang membela kaum buruh yang tertindas yang dipelopori oleh Karl Marx dan kawan-kawannya. Demikian juga kalau kita ingin mencari bukti-bukti lain, misalnya pada abad  pertengahan. Di abad ini tidak terjadi perubahan yang berarti di lapangan kemasyarakatan. Pada abad ini gereja merupakan pendukung kebudayaan, merupakan tenaga yang menyatukan dan menguasai masyarakat. Prinsip-prinsip kemasyarakatan dirumuskan oleh  bapa-bapa gereja seperti Santo Agustinus dan dan Thomas van Aquinas sebagai pemuka- pemukanya. Dan sejarah mencatat dalam abad ini praktis tidak ada perhatian tentang masalah-masalah sosial atau dengan kata lain dalam periode ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat lambat di lapangan ilmu pengetahuan sosial. Sebaliknya pada akhir abad pertengahan, terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam masyarakat. Tumbuhnya nasionalisme yang mendesak feodalisme, berkembangnya  perdagangan dan tumbuhnya borjuis yang kemudian menjadi semakin berpengaruh. Di dalam  perode ini terjadi pertentangan yang memenuhi dunia dan pertengahan yakni pertentangan antara raja dan paus untuk saling berebut kekuasaan. Juga periode ini ditandai tumbuh dan  berkembangnya kota-kota dan mengalirnya penduduk desa ke kota yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan terhadap tradisi adat kebiasaan dan moral yang kemudian mulai menghilangnya yang mengikat masyarakat. Timbullah dari keadaan ini  pemikiran-pemikiran yang reflektif dan diskusi-diskusi tentang apa yang disebut dengan  problem-problem sosial. Abad inilah yang mungkin dikenal dengan periode Renaissance, dimana muncul kembali pemikiran-pemikiran Yunani dan Romawi abad ke 4 sebelum masehi, yaitu periode Plato dan Aristoteles, ahli-ahli sejarah seperti Herodotus, Tucydides, Polybos, dan juga Cicero yang dalam ilmu pengetahuan diklasifikasikan sebagai ahli teori kemasyarakatan dari abad Hellenic.Abad Helleni ini, seperti halnya abad modern sekarang ini adalah suatu masa transisi yang mana terjadi disorganisasi sosial yaitu ketika rejim Negara kota membuka jalan bagi tumbuhnya suatu negara kekaisaran sesudah penaklukan Alexander atas negara-negara Yunani. Dari uraian terdahulu, kembali kita melihat hubungan antara krisis dengan munculnya teori-teori sosial sebagaimana dinyatakan oleh Teori Krisis Pemikiran. Sehingga dapatlah dinyatakan pula bahwa suatu ilmu sosial sesungguhnya pada suatu waktu dan tempat tertentu, menggambarkan usaha para pemikir untuk dapat memahami keadaan masyarakat di mana mereka hidup, terutama keadaan yang timbul dari keadaan yang berubah baik untuk kepentingan para pemikir itu sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat.

Modernitas
Gagasan "modern" berasal dari sebutan terhadap institusi ide, dan perilaku yang muncul dari kemerosotan masyarakat pertengahan (medieval society) di Eropa. Walaupun benih modernitas itu telah bersemai ratusan tahun sebelumnya, barulah pada kehidupan modern itu benar-benar terwujud. Perubahan besar tersebut menjadi momenium penting sebagaimana disebut oleh Karl Polanyi (1973) sebagai Transformasi Besar. Marx dan Engels bahkan menyebutnya lebih tegas dalam bahasannya tentang
modernitas:
Semua yang mapan, hubungan-hubungan yang kaku dan tetap,yang sarat dengan muatan pikiran dan pandangan prasangka yang begitu kuat, disapu bersih, semua diganti oleh pikiran baru,Semua yang lama lenyap dibawa angin, semua yang suci menjadi tidak suci, dan manusia akhirnya berhadapan langsung dengan kondisi-kondisi nyata dalam kehidupan mereka sendiri dan hubungan-hubungan mereka satu sama lain. (Marx dan Engels, TheCommunist Manifesto, 1848).Dalam uraian yang sangat ringkas, perubahan-perubahan yang ditengarai oleh modernitas melibatkan munculnya dan mantapnya kapitalisme produksi massal berbasis pabrik populasi yang meningkat pesat, urbanisasi besar-besar negara bangsa sebagai bentuk modern pemerintahan dominasi Barat di seluruh dunia bentuk-bentuk sekuler pengetahuan, khususnya pengetahuan (sains)
Kapitalisme
Dalam ekonomi pra-kapitalis, meskipun sudah ada pabrik dan perdagangan, orang biasanya lebih memproduksi barang untuk konsumsi mereka saja. Khususnya hal ini berlaku dalam pertanian pra-kapitalis. Kapitalisme berarti sesuatu yang sangat berbeda.Kapitalis mengerahkan pekerja untuk menghasilkan barang barang untuk mereka sendiri, dan memberikan upah sebagai ganti tenaga kerja. Sasaran dari produksi barang ini adalah menjualnya di pasar dengan harga lebih tinggi daripada biaya produksi. Jadi,produksi kapitalis menghasilkan keuntungan atau laba. Semakin efisien produksi semakin besar pula keuntungan. Dalam upaya sistematik memperoleh keuntungan, inti persoalannya adalah nilai pasar dari suatu barang, tersedianya pasar, dan efisiensi dalam pengorganisasian perusahaan. Khususnya, hal ini melibatkan manajemen rasional dari kekuatan tenaga kerja sedemikian sehingga biaya dapat dikurangi.Dengan demikian, kapitalisme memantapkan cara berpikir dan bertindak, yang dalam banyak hal tidak ditemukan di dunia pra modern. Para pekerja harus menjual tenaganya sebagai komoditas dalam pasar tenaga kerja. Survival mereka tidak tergantung Pada apa yang mereka produksi untuk diri mereka sendiri melainkan pada upah yang mereka terima, yang dengan upah itu meres membeli barang-barang dan jasa bagi keperluan sehari hari Sebagai akibatnya, kesempatan hidup mereka sangat ditentukan oleh ganjaran yang mereka terima dari pekerjaan. Yakni, suatu sistem ketidaksetaraan kelas muncul, yang terutama berdasarkan ganjaran bagi pekerjaan. Selain itu, identitas menjadi sangat terikat dengan pekerjaan dan keanggotaan kelas bagaimana Anda memandang diri sendiri dan bagaimana orang lain memandang Anda semakin didefinisikan oleh pekerjaan yang Anda lakukan dan ganjaran bagi pekerjaan itu. Salah satu dari ekspresi sosial dari aspek modernitas ini adalah munculnya gerakan bur ruh: organisasi, seperti Perserikatan Dagang, yang dimantapkan untuk merepresentasi kepentingan kolektif para pekerja dari kelompok pekerjaan yang sama. Ketidaksetaraan jender juga berkembang sama. Tak hanya tenaga kerja laki-laki menerima upah yang lebih tinggi daripada pekerja perempuan tetapi, dengan berjalannya waktu, dan meningkatnya mekanisasi produksi, perempuan semakin tersingkir dari tempat pekerjaan.Keadaan ini menghasilkan pemisahan kehidupan dan kesempatan hidup, di satu pihak, dan dominasi laki-laki di lapangan kehidupan publik, dunia pekerjaan dan upah, di pihak lain, dominasi perempuan dalam lapangan kehidupan domestik, suatu dunia pekerjaan domestik tanpa upah. Perempuan menjadi tergantung secara ekonomi pada laki-laki (suami) dan terutama didefinisikan dalam konteks peranan mereka dalam mengelola dunia domestik.Produksi pertanian dan perdagangan mengalami kapitalisasi pertama dan kemudian, pada abad ke-19, kapitalisme menjadi dinamik di balik pertumbuhan besar dan cepat produksi industri.
Teknik-teknik produksi
Bersamaan dengan munculnya kapitalisme, apa yang disebut Revolusi Industri memberi peluang ara-cara bekerja yang baru dan menghasilkan barang-barang yang dilembagakan. Kemajuan teknologi yang cepat mendorong kepada manufaktur berskala besar yang dilokasikan di tempat kerja yang telah ditentukan pabrik dan organisasi produksi menjadi objek perhitungan rasional.Sistem pabrik melibatkan banyak pekerja yang diorganisasi secara sistematik dan terkendali, dengan pemisahan proses proses pengaturan menjadi tugas-tugas yang terspesialisasi dengan jelas. Kemudian, dan dengan kemajuan teknologilebih lanjut, teknik-teknik produksi massal modern menjadi Semakin canggih, yang mencapai puncak dalam me-organisasi yang rasional dan efisien (onamufactıuring). (Istilah ini berasal dari pendiri pabrik mobil terkemuka, Henry Ford). Fordisme bukan hanya tentang produksi massal produk standar (Ford dikenang karena pernyatannya yang terkenal bahwa para pelanggannya mungkin menyukai Model     T Ford dengan aneka warna tetapi tetap saja mereka lebih menyukai warna hitam), tetapi juga memperkenalkan struktur organisasi yang kaku, dalam upaya mencapai produktivitas yang tinggi dan tawar-menawar upah kolektif.Perubahan penduduk Transformasi Besar meliputi pertumbuhan cepat penduduk dan konsentrasinya di perkotaan. Tingkat kelahiran meningkat dan tingkat kematian menurun;m menurut Kumar (1978), penduduk Eropa naik dari 120 juta pada tahun 1750 menjadi sekitar 468 juta pada tahun 1913. Urbanisasi penduduk adalah ciri utama lain dan Modernitas, ada migrasi massal dari daerah pinggiran ke kota-kota kecil maupun besar yang tumbuh di sekitar pusat-pusat industi.Keadaan ini menjadi dasar kehidupan modern abad ke-20 utama kehidupan perkotaan.
Negara-bangsa
Modernitas menyaksikan suatu bentuk politi (polity) yang muncul. Negara menggunakan system negara-bangsa merintahan sentralistis dengan kekuasaan absolute? seluruh wilayah nasional. Dektrit-dekrit pemerintah diberlakukan bagi semua orang yang hidup di seluruh negeri kekuasaan terbesar negara terletak pada monopoli kekuasaan, misalnya, menggunakan kontrol angkatan bersenjata. Munculnya pemerintahan negara membuahkan otoritas sipil juga-suatu sistem administrator dan pejabat politik yang tugasnya melaksanakan keputusan-keputusan yang didukung negara di seluruh wilayah nasional. Pada abad ke-20, kekuasaan politik global memasuki dan memengaruhi negara-negara-bangsa di Barat dan gagasan-gagasan mengenai kewarganegaraan, nasionalisme, demokrasi, sosialisme, konservatisme, dan liberalisme mendominasi pemikiran dan wacana politik. 
Dominasi global oleh Barat 
Mantapnya kekuasaan negara-bangsa memicu dominasi politik, ekonomi, dan kebudayaan dunia oleh negara-negara di Eropa. Perkembangan ekonomi Barat yang cepat pada abad ke-19 sangat tergantung pada mudahnya akses ke bahan mentah dari seluruh dunia. Kekuatan politik dan militer negara-negara ini memungkinkan mereka memanfaatkan sumberdaya material dan manusia dari wilayah-wilayah dunia yang lemah dan mulailah proses perkembangan tak setara di Dunia Pertama dan Dunia Ketiga di mana kita hidup sekarang ini. Kemudian, dominasi Barat dimantapkan secara politik dan budaya oleh kolonialisme dan secara ekonomi oleh pengendalian pasar dunia. 
Perubahan kebudayaan: Munculnya rasionalitas dan sekularisasi pengetahuan.Pencerahan mendorong pergeseran budaya yang diperlukan bagi tercapainya kemenangan akhir modernitas. Momentum sejarah pada abad ke-18, Pencerahan mengacu kepada munculnya keyakinan baru mengenai kekuatan pikiran manusia. Produksi pengetahuan sebelum Pencerahan secara khas melibatkan para ahli untuk menerjemahkan teks-teks atu tanda-tanda agama. Dalam hal ini memungkinkan bagi manusia untuk mengetahui apa yang dipikirkan Tuhan atau tuhan-tuhan tentang mereka.Sebaliknya, Pencerahan meningkatkan pandangan sekular esensial bahwasanya dengan menggunakan pikiran, rasio, manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia memproduksi pengetahuan tertentu dan oleh karena itu dapat menggunakan pengetahuan Untuk mencapai kemajuan. Eksemplar rasionalitas adalah pikiran ilmiah dan kegiatan ilmiah. Mesin intelektual dari modemim adalah keyakinan bahwa tak satu pun di dunia ini yang misteri, tak ada yang tidak dapat diungkapkan, apabila pikiran dijadikan pedoman. Lebih lanjut, tak hanya memungkinkan manusia tahu Sesuatu lebih pasti tetapi juga dapat membuat kehidupan manusia lebih baik-mencapai kemajuan. Ketergantungan pra-modem pada tradisi dan kesinambungan memberi jalan kepada komitmen terhadap manfaat perubahan yang diilhami oleh pikiran, inovasi, dan kemajuan. Cara berpikir inilah yang disebut modernisme. Inilah kemunculan modernisme, perubahan kebudayaan dalam keyakinan yang mendudukkan pengetahuan dan untuk apa pengetahuan itu, yang secara langsung mempromosikan perteorian sosiologis dan sosiologi itu sendiri.

Hubungan Modernisme dan sosiologi 
Pemikiran modernis meliputi gagasan bahwa tujuan mementingkan pengetahuan, sebagaimana dikatakan Giddens (1987), adalah "Memengaruhi kondisi manusia agar menjadi lebih baik" Modernitas berarti upaya terus-menerus perbaikan kehidupal1 dan upaya mencapai kemajuan. Tak seperti latar tradisional, dj mana pandangan mengenai sesuatu relatif sama dan tetap, maU dalam dunia modern perubahan, perkembangan dan perbaikaI1 adalah tujuannya. Seperti dikatakan Cheal (1991) bahwa keyakinaff pada yang ideal dan kemungkinan kemajuan berarti: ”maya… bahwa keadaan esok harus selalu lebih baik daripada hari W yang kemudian berarti harus siap mengubah keteraturan yani ?Udah ada untuk mencapai kemajuan. Dengan kata lain, harus Sia? membongkar tradisi". Bagaimana kemajuan itu seharusnya dicapai? Merajut keyakinan dalarn kemungkinan mencapai kemajuan adalah keyakinan akan kekuatan pikiran-dalam kemampuan manusia untuk berpikir tentang diri mereka sendiri, kondisi-kondisi, refleksi, dan rasionalitas masyarakat-dan memperbaikinya menurut pemikiran rasional itu. Gagasan bahwa manusia tidak hanya dapat memikirkan dan menjelaskan mengenai kehidupan mereka-untuk menghasilkan teori-teori sosial-tetapi juga untuk menggunakannya mengubah masyarakat menjadi lebih baik, secara khusus adalah konsep modern. Gagasan bahwa pikiran dapat memberikan agenda dan seperangkat resep bagi kehidupan, tak hanya menyandarkan pada campur tangan dan tindakan Tuhan, hanya mulai berkembang setelah Pencerahan,Pada masa inilah keyakinan bahwa wahyu Tuhan, dan otoritas Gereja sebagai penerjemah kehendak Tuhan, semakin berkurang karena keyakinan baru akan kemampuan akal manusia untuk memahami dunia dan menjadi pedoman bagi perilaku manusia. Hal yang sama, pemahaman mengenai sejarah manusia, bahwa manusia diturunkan Tuhan dari langit, bahwasanya keselamatan yang sejati hanya diperoleh di akhirat kelak, sebagian besar digantikan oleh kekuatan dan kemampuan manusia yang semakin meningkat untuk menggunakan pengetahuan yang baru ditemukan, untuk memperbaiki kondisi manusia. Arti penting kedua asumsi ini tak boleh diabaikan. Tanpa keyakinan pada akal pikiran, teori sosial tidak dapat dianggap dapat memainkan peranan penting dalam masyarakat. Tanpa keyakinan pada kemungkinan adanya kemajuan, apa pun kemampuan manusia untuk memahami hakikat dasar masyarakat, teori sosial tidak akan mampu mencapai peranan positif dalam memperbaiki nasib manusia.Jadi, sosiologi bukanlah semata mata produk modernitas dari suatu keyakinan pada kekuatan akal pikiran manusia untuk uan ang dapat digunakan untuk mencapai kemajuan. Selain itu, dunia yang diciptakan modernitas adalah materi subjeknya yang utama, "lapangan kajian utama adalah dunia sosial yang dibawa oleh lahirnya modernitas.” Sebagaimana juga dikatakan oleh Giddens.kehadiran paling nyata dari sosiologi ”terikat” pada "Proyek, modernitas”. Konstruksi teori-teori sosial mencerminkan kepentingan tidak hanya tentang bagaimana kita hidup, tetapi juga bagaimana kit, seharusnya hidup; teori-teori sosial tentang masyarakat modern tidak hanya mencoba menguraikan dan menjelaskan dunia sosial kita, tetap, juga mendiagnosa masalahnya dan mengusulkan cara pemecahannya Menurut Giddens, hal ini menempatkan sosiologi dalam ”zona transisi yang ketat antara diagnosa dan prognosis".
BAB III 
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian diatas bisa dipahami bahwa sosiologi klasik sangat berpengaruh terhadap modernitas karena sebelum adanya modern pastilah ada yang namanya klasik yang menjadi cikal bakal atau awal mula terjadinya suatu perkara.sosiologi klasik merupakan suatu cabang ilmu sosiologi yang memang sangat penting bagi kita semua.auguste compte sendiri adalah bapak penemu ilmu sosial.ilmu sosial berawal dari adanya krisis moral pada masa lampau yang pada waktu itu memang tidak ada perhatian dari siapapun dan akhirnya auguste compte mempunyai gagasan untuk menjadikan sosial sebagi ilmu.ilmu sosial juga selalu selaras dengan kemajuan zaman atau modernitas,karena semakin lama moral atau perilaku sosial masyarakatakan selalu beruba-ubah dan itu harus ada suatu perkara yang dijadikan pedoman agar masalah yang tercipta bisa terselaikan secara tepat.oleh karena itu kita sebagai makhluk sosial diharapkan bisa menjadi seorang pribadi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Pip Jones,Liza Bradbury,dan Shaun Le Boutilier.2016.Pengantar teori-teori sosial.jakarta:yayasan pustaka bogor indonesia
Roberttus,Robert.2016.modernitas dan tragedi:kritik dalam sosiologi humanitis.Masyarakat Jurnal Sosiologi Vol.20 No.20
Prasetyo,Heri.2013.Sociology Of Space:Sebuah Bentangan Teoritik.Sejarah Dan Budaya.Tahun ke-7 No.2
M.Wahid Nur Tuwaleka.2017.Teori Konflik Sosiologi Klasik dan Modern.Jurnal Al-Hikmah,Volume 3,No.1