Selasa, 04 Desember 2018

Perteorian sosiologi klasik : menganalisis modernitas
MAKALAH
Di susun Guna Memenuhi Tugas UAS teori-teori sosial
Dosen pengampu : Mas’udi, S. Fil.I., M.A






Oleh :
MUHAMMAD JAUHAR FANNANI (1740410003)
PMI/A3

--------------------------------------------------------------------------------------------
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  KUDUS
2018





BAB I
PENDAHULUAN
Sosiologi adalah ilmu yang terbilang cukup baru dibanding ilmu lainnya dalam ilmuilmu sosial. Diperkenalkan pertama kali oleh Auguste Comte yang membuat namanya dikenal
sebagai ‘Bapak Sosiologi’ dan dibakukan menjadi disiplin ilmu pengetahuan berkat jasa besar
Emile Durkheim. Hingga kini sosiologi menjadi ilmu yang sangat populer seiring dengan
makin rumitnya problematika yang muncul dalam masyarakat di abad 21 ini.
Mempelajari sosiologi tidak terlepas dari berbagai teori yang menjadi landasan utama
untuk menganalisis perubahan masyarakat dan berbagai gejala sosial yang muncul akibat
perubahan tersebut.
Rumusan masalah:
1.apa itu sosiologi klasik
2.apa itu modernitas
3.hubungan antara sosiologi klasik dengan modernitas
Tujuan:
1.untuk mengetahui tentang sosiologi klasik
2.untuk mengetahui tentang modernitas
3.untuk mengetahui hubungan antara sosiologi klasik dengan modernitas
BAB II
PEMBAHASAN
SOSIOLOGI KLASIK
Sosiologi adalah disiplin ilmu yang mencoba menjelaskan aspek-aspek kehidupan manusia, maka sosiologi juga peka untuk melakukan pembahasan tentang nilai dan moral yang terlibat dalam berteori. Pada umumnya argumentasi kebebasan nilai dalam teori sosiologi telah berjalan, yang mana agar dapat ditemukan sesuatu dan mengkonsepsikan sesuatu itu, para sosiolog perlu menghilangkan prasangka pribadi mengenai hubungan sosial dalam studinya. Pernyataan ini tidak berarti bahwa dia harus tidak menjadi seorang yang  bermoral. Tetapi untuk tujuan deskripsi dan teori ini bila seseorang ingin mengetahui yang sebenarnya maka dia harus mengobservasikan, menguraikan, dan menggunakan teori dengan tidak berat sebelah. Bila kejujuran tidak dipakai sepenuhnya, apa yang dianggap seharusnya terjadi dapat ia nyatakan sebagai sesuatu yang sesungguhnya, dogma akan turut lebur dalam  pemikirannya. Sosiologi sejak awal perkembangannya dipermulaan abad 19 hingga dewasa ini, telah mengalami perubahan yang terus menerus. Ilmu yang oleh Auguste Compte disebut dengan “Sosial Physics” ,dikenal dengan nama sosiologi, berkembang terus seiring perubahan yang timbul dalam masyarakat. Adalah Compte, bapak pendiri sosiologi yang mengatakan ada 2 cara untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan yaitu secara dogmatis dan secara historis. Mempelajari ilmu pengetahuan secara dogmatis akan membawa kita pada pemahaman teori-teori ilmu yang bersangkutan, sedangkan mempelajarinya secara historis memaksa kita menelusuri awal mula, konteks situasi di mana teori itu lahir. Pernyataan di atas ini sesungguhnya juga berawal dari banyak pendapat para sarjana di lapangan ilmu pengetahuan sosial bahwa tujuan yang fundamental dari ilmu-ilmu sosial termasuk sosiologi adalah menerangkan tentang kenyataan-kenyataan perubahan sosial. Bahkan khusus untuk sosiologi itu sendiri ada yang menyatakan ilmu ini adalah ilmu tentang krisis sosial. Dinyatakan demikian karena pada kenyataannya, sejak awal pertumbuhannya hingga perkembangannya dewasa ini sosiologi cenderung memperoleh bentuk-bentuk baru selaras dengan krisis sosial. Charles A Ellwood, di dalam bukunya yang terkenal A History of Sosial  Philosophy menyebut adanya sebuah teori yang dikenal dengan “the crisis of thought atau Teori Krisis Pemikiran. Menurut teori ini, orang hanya akan berfikir bila mana timbul  persoalan-persoalan, bila mana kebiasaan-kebiasaan lama kita tidak lagi berfungsi dan kita membutuhkan kebiasaan-kebiasaan baru. Charles Ellwood mengambil contoh krisis yang menimbulkan lahirnya pemikiran- pemikiran di lapangan ilmu kemasyarakatan ketika Athena, negara kota di abad Helleni yang angkuh itu berantakan ketika dikalahkan oleh Sparta, suatu bangsa yang oleh orang Athena dianggap bangsa yang terbelakang.Jadi jelaslah bahwa sosiologi adalah merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Dan karena pada kenyataannya tiada satupun masyarakat yang tidak mengalami  perubahan, maka sosiologi akan terus berkembang di dalam masyarakat. Teori-teorinya akan terus berkembang dengan segala konsekuensinya, yang mungkin akan terlempar dari  peredaran atau mungkin juga akan bertahan. Sementara itu pula akan muncul teori-teori baru yang dihasilkan seiring dengan perubahan kemasyarakatan yang terjadi. Untuk membuktikan hal itu mungkin kita bisa melacaknya jauh ke belakang pada  permulaan abad ke 19 dimana terjadi perubahan yang sangat cepat dan hebat di dalam masyarakat akibat terjadinya revolusi industri dan juga terjadinya revolusi sosial di Eropa. Sebuah perubahan yang memperkenalkan kekuasaan masyarakat dan kekuasaan massa. Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi pada masa itu telah menghasilkan polarisasi yang sangat hebat antara kaum pemilik modal dengan mereka yang tidak memiliki. Berkembangnya industri-industri di daerah perkotaan telah mengakibatkan mengalirnya urbanisasi dari daerah pedesaan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Tetapi kemudian kenyataannya menunjukkan telah terjadi semacam penghisapan oleh kaum majikan yakni para pemilik modal yang menguasai indusri-industri tersebut terhadap para  buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Perubahan ini kemudian menghasilkan berbagai krisis sosial dengan meningkatnya kriminalitas dan kemiskinan rakyat jelata yang tidak punya modal. Di dalam situasi sedemikian inilah sosiologi mencatat tampilnya teori-teori yang membela kaum buruh yang tertindas yang dipelopori oleh Karl Marx dan kawan-kawannya. Demikian juga kalau kita ingin mencari bukti-bukti lain, misalnya pada abad  pertengahan. Di abad ini tidak terjadi perubahan yang berarti di lapangan kemasyarakatan. Pada abad ini gereja merupakan pendukung kebudayaan, merupakan tenaga yang menyatukan dan menguasai masyarakat. Prinsip-prinsip kemasyarakatan dirumuskan oleh  bapa-bapa gereja seperti Santo Agustinus dan dan Thomas van Aquinas sebagai pemuka- pemukanya. Dan sejarah mencatat dalam abad ini praktis tidak ada perhatian tentang masalah-masalah sosial atau dengan kata lain dalam periode ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat lambat di lapangan ilmu pengetahuan sosial. Sebaliknya pada akhir abad pertengahan, terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat di dalam masyarakat. Tumbuhnya nasionalisme yang mendesak feodalisme, berkembangnya  perdagangan dan tumbuhnya borjuis yang kemudian menjadi semakin berpengaruh. Di dalam  perode ini terjadi pertentangan yang memenuhi dunia dan pertengahan yakni pertentangan antara raja dan paus untuk saling berebut kekuasaan. Juga periode ini ditandai tumbuh dan  berkembangnya kota-kota dan mengalirnya penduduk desa ke kota yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan terhadap tradisi adat kebiasaan dan moral yang kemudian mulai menghilangnya yang mengikat masyarakat. Timbullah dari keadaan ini  pemikiran-pemikiran yang reflektif dan diskusi-diskusi tentang apa yang disebut dengan  problem-problem sosial. Abad inilah yang mungkin dikenal dengan periode Renaissance, dimana muncul kembali pemikiran-pemikiran Yunani dan Romawi abad ke 4 sebelum masehi, yaitu periode Plato dan Aristoteles, ahli-ahli sejarah seperti Herodotus, Tucydides, Polybos, dan juga Cicero yang dalam ilmu pengetahuan diklasifikasikan sebagai ahli teori kemasyarakatan dari abad Hellenic.Abad Helleni ini, seperti halnya abad modern sekarang ini adalah suatu masa transisi yang mana terjadi disorganisasi sosial yaitu ketika rejim Negara kota membuka jalan bagi tumbuhnya suatu negara kekaisaran sesudah penaklukan Alexander atas negara-negara Yunani. Dari uraian terdahulu, kembali kita melihat hubungan antara krisis dengan munculnya teori-teori sosial sebagaimana dinyatakan oleh Teori Krisis Pemikiran. Sehingga dapatlah dinyatakan pula bahwa suatu ilmu sosial sesungguhnya pada suatu waktu dan tempat tertentu, menggambarkan usaha para pemikir untuk dapat memahami keadaan masyarakat di mana mereka hidup, terutama keadaan yang timbul dari keadaan yang berubah baik untuk kepentingan para pemikir itu sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat.

Modernitas
Gagasan "modern" berasal dari sebutan terhadap institusi ide, dan perilaku yang muncul dari kemerosotan masyarakat pertengahan (medieval society) di Eropa. Walaupun benih modernitas itu telah bersemai ratusan tahun sebelumnya, barulah pada kehidupan modern itu benar-benar terwujud. Perubahan besar tersebut menjadi momenium penting sebagaimana disebut oleh Karl Polanyi (1973) sebagai Transformasi Besar. Marx dan Engels bahkan menyebutnya lebih tegas dalam bahasannya tentang
modernitas:
Semua yang mapan, hubungan-hubungan yang kaku dan tetap,yang sarat dengan muatan pikiran dan pandangan prasangka yang begitu kuat, disapu bersih, semua diganti oleh pikiran baru,Semua yang lama lenyap dibawa angin, semua yang suci menjadi tidak suci, dan manusia akhirnya berhadapan langsung dengan kondisi-kondisi nyata dalam kehidupan mereka sendiri dan hubungan-hubungan mereka satu sama lain. (Marx dan Engels, TheCommunist Manifesto, 1848).Dalam uraian yang sangat ringkas, perubahan-perubahan yang ditengarai oleh modernitas melibatkan munculnya dan mantapnya kapitalisme produksi massal berbasis pabrik populasi yang meningkat pesat, urbanisasi besar-besar negara bangsa sebagai bentuk modern pemerintahan dominasi Barat di seluruh dunia bentuk-bentuk sekuler pengetahuan, khususnya pengetahuan (sains)
Kapitalisme
Dalam ekonomi pra-kapitalis, meskipun sudah ada pabrik dan perdagangan, orang biasanya lebih memproduksi barang untuk konsumsi mereka saja. Khususnya hal ini berlaku dalam pertanian pra-kapitalis. Kapitalisme berarti sesuatu yang sangat berbeda.Kapitalis mengerahkan pekerja untuk menghasilkan barang barang untuk mereka sendiri, dan memberikan upah sebagai ganti tenaga kerja. Sasaran dari produksi barang ini adalah menjualnya di pasar dengan harga lebih tinggi daripada biaya produksi. Jadi,produksi kapitalis menghasilkan keuntungan atau laba. Semakin efisien produksi semakin besar pula keuntungan. Dalam upaya sistematik memperoleh keuntungan, inti persoalannya adalah nilai pasar dari suatu barang, tersedianya pasar, dan efisiensi dalam pengorganisasian perusahaan. Khususnya, hal ini melibatkan manajemen rasional dari kekuatan tenaga kerja sedemikian sehingga biaya dapat dikurangi.Dengan demikian, kapitalisme memantapkan cara berpikir dan bertindak, yang dalam banyak hal tidak ditemukan di dunia pra modern. Para pekerja harus menjual tenaganya sebagai komoditas dalam pasar tenaga kerja. Survival mereka tidak tergantung Pada apa yang mereka produksi untuk diri mereka sendiri melainkan pada upah yang mereka terima, yang dengan upah itu meres membeli barang-barang dan jasa bagi keperluan sehari hari Sebagai akibatnya, kesempatan hidup mereka sangat ditentukan oleh ganjaran yang mereka terima dari pekerjaan. Yakni, suatu sistem ketidaksetaraan kelas muncul, yang terutama berdasarkan ganjaran bagi pekerjaan. Selain itu, identitas menjadi sangat terikat dengan pekerjaan dan keanggotaan kelas bagaimana Anda memandang diri sendiri dan bagaimana orang lain memandang Anda semakin didefinisikan oleh pekerjaan yang Anda lakukan dan ganjaran bagi pekerjaan itu. Salah satu dari ekspresi sosial dari aspek modernitas ini adalah munculnya gerakan bur ruh: organisasi, seperti Perserikatan Dagang, yang dimantapkan untuk merepresentasi kepentingan kolektif para pekerja dari kelompok pekerjaan yang sama. Ketidaksetaraan jender juga berkembang sama. Tak hanya tenaga kerja laki-laki menerima upah yang lebih tinggi daripada pekerja perempuan tetapi, dengan berjalannya waktu, dan meningkatnya mekanisasi produksi, perempuan semakin tersingkir dari tempat pekerjaan.Keadaan ini menghasilkan pemisahan kehidupan dan kesempatan hidup, di satu pihak, dan dominasi laki-laki di lapangan kehidupan publik, dunia pekerjaan dan upah, di pihak lain, dominasi perempuan dalam lapangan kehidupan domestik, suatu dunia pekerjaan domestik tanpa upah. Perempuan menjadi tergantung secara ekonomi pada laki-laki (suami) dan terutama didefinisikan dalam konteks peranan mereka dalam mengelola dunia domestik.Produksi pertanian dan perdagangan mengalami kapitalisasi pertama dan kemudian, pada abad ke-19, kapitalisme menjadi dinamik di balik pertumbuhan besar dan cepat produksi industri.
Teknik-teknik produksi
Bersamaan dengan munculnya kapitalisme, apa yang disebut Revolusi Industri memberi peluang ara-cara bekerja yang baru dan menghasilkan barang-barang yang dilembagakan. Kemajuan teknologi yang cepat mendorong kepada manufaktur berskala besar yang dilokasikan di tempat kerja yang telah ditentukan pabrik dan organisasi produksi menjadi objek perhitungan rasional.Sistem pabrik melibatkan banyak pekerja yang diorganisasi secara sistematik dan terkendali, dengan pemisahan proses proses pengaturan menjadi tugas-tugas yang terspesialisasi dengan jelas. Kemudian, dan dengan kemajuan teknologilebih lanjut, teknik-teknik produksi massal modern menjadi Semakin canggih, yang mencapai puncak dalam me-organisasi yang rasional dan efisien (onamufactıuring). (Istilah ini berasal dari pendiri pabrik mobil terkemuka, Henry Ford). Fordisme bukan hanya tentang produksi massal produk standar (Ford dikenang karena pernyatannya yang terkenal bahwa para pelanggannya mungkin menyukai Model     T Ford dengan aneka warna tetapi tetap saja mereka lebih menyukai warna hitam), tetapi juga memperkenalkan struktur organisasi yang kaku, dalam upaya mencapai produktivitas yang tinggi dan tawar-menawar upah kolektif.Perubahan penduduk Transformasi Besar meliputi pertumbuhan cepat penduduk dan konsentrasinya di perkotaan. Tingkat kelahiran meningkat dan tingkat kematian menurun;m menurut Kumar (1978), penduduk Eropa naik dari 120 juta pada tahun 1750 menjadi sekitar 468 juta pada tahun 1913. Urbanisasi penduduk adalah ciri utama lain dan Modernitas, ada migrasi massal dari daerah pinggiran ke kota-kota kecil maupun besar yang tumbuh di sekitar pusat-pusat industi.Keadaan ini menjadi dasar kehidupan modern abad ke-20 utama kehidupan perkotaan.
Negara-bangsa
Modernitas menyaksikan suatu bentuk politi (polity) yang muncul. Negara menggunakan system negara-bangsa merintahan sentralistis dengan kekuasaan absolute? seluruh wilayah nasional. Dektrit-dekrit pemerintah diberlakukan bagi semua orang yang hidup di seluruh negeri kekuasaan terbesar negara terletak pada monopoli kekuasaan, misalnya, menggunakan kontrol angkatan bersenjata. Munculnya pemerintahan negara membuahkan otoritas sipil juga-suatu sistem administrator dan pejabat politik yang tugasnya melaksanakan keputusan-keputusan yang didukung negara di seluruh wilayah nasional. Pada abad ke-20, kekuasaan politik global memasuki dan memengaruhi negara-negara-bangsa di Barat dan gagasan-gagasan mengenai kewarganegaraan, nasionalisme, demokrasi, sosialisme, konservatisme, dan liberalisme mendominasi pemikiran dan wacana politik. 
Dominasi global oleh Barat 
Mantapnya kekuasaan negara-bangsa memicu dominasi politik, ekonomi, dan kebudayaan dunia oleh negara-negara di Eropa. Perkembangan ekonomi Barat yang cepat pada abad ke-19 sangat tergantung pada mudahnya akses ke bahan mentah dari seluruh dunia. Kekuatan politik dan militer negara-negara ini memungkinkan mereka memanfaatkan sumberdaya material dan manusia dari wilayah-wilayah dunia yang lemah dan mulailah proses perkembangan tak setara di Dunia Pertama dan Dunia Ketiga di mana kita hidup sekarang ini. Kemudian, dominasi Barat dimantapkan secara politik dan budaya oleh kolonialisme dan secara ekonomi oleh pengendalian pasar dunia. 
Perubahan kebudayaan: Munculnya rasionalitas dan sekularisasi pengetahuan.Pencerahan mendorong pergeseran budaya yang diperlukan bagi tercapainya kemenangan akhir modernitas. Momentum sejarah pada abad ke-18, Pencerahan mengacu kepada munculnya keyakinan baru mengenai kekuatan pikiran manusia. Produksi pengetahuan sebelum Pencerahan secara khas melibatkan para ahli untuk menerjemahkan teks-teks atu tanda-tanda agama. Dalam hal ini memungkinkan bagi manusia untuk mengetahui apa yang dipikirkan Tuhan atau tuhan-tuhan tentang mereka.Sebaliknya, Pencerahan meningkatkan pandangan sekular esensial bahwasanya dengan menggunakan pikiran, rasio, manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia memproduksi pengetahuan tertentu dan oleh karena itu dapat menggunakan pengetahuan Untuk mencapai kemajuan. Eksemplar rasionalitas adalah pikiran ilmiah dan kegiatan ilmiah. Mesin intelektual dari modemim adalah keyakinan bahwa tak satu pun di dunia ini yang misteri, tak ada yang tidak dapat diungkapkan, apabila pikiran dijadikan pedoman. Lebih lanjut, tak hanya memungkinkan manusia tahu Sesuatu lebih pasti tetapi juga dapat membuat kehidupan manusia lebih baik-mencapai kemajuan. Ketergantungan pra-modem pada tradisi dan kesinambungan memberi jalan kepada komitmen terhadap manfaat perubahan yang diilhami oleh pikiran, inovasi, dan kemajuan. Cara berpikir inilah yang disebut modernisme. Inilah kemunculan modernisme, perubahan kebudayaan dalam keyakinan yang mendudukkan pengetahuan dan untuk apa pengetahuan itu, yang secara langsung mempromosikan perteorian sosiologis dan sosiologi itu sendiri.

Hubungan Modernisme dan sosiologi 
Pemikiran modernis meliputi gagasan bahwa tujuan mementingkan pengetahuan, sebagaimana dikatakan Giddens (1987), adalah "Memengaruhi kondisi manusia agar menjadi lebih baik" Modernitas berarti upaya terus-menerus perbaikan kehidupal1 dan upaya mencapai kemajuan. Tak seperti latar tradisional, dj mana pandangan mengenai sesuatu relatif sama dan tetap, maU dalam dunia modern perubahan, perkembangan dan perbaikaI1 adalah tujuannya. Seperti dikatakan Cheal (1991) bahwa keyakinaff pada yang ideal dan kemungkinan kemajuan berarti: ”maya… bahwa keadaan esok harus selalu lebih baik daripada hari W yang kemudian berarti harus siap mengubah keteraturan yani ?Udah ada untuk mencapai kemajuan. Dengan kata lain, harus Sia? membongkar tradisi". Bagaimana kemajuan itu seharusnya dicapai? Merajut keyakinan dalarn kemungkinan mencapai kemajuan adalah keyakinan akan kekuatan pikiran-dalam kemampuan manusia untuk berpikir tentang diri mereka sendiri, kondisi-kondisi, refleksi, dan rasionalitas masyarakat-dan memperbaikinya menurut pemikiran rasional itu. Gagasan bahwa manusia tidak hanya dapat memikirkan dan menjelaskan mengenai kehidupan mereka-untuk menghasilkan teori-teori sosial-tetapi juga untuk menggunakannya mengubah masyarakat menjadi lebih baik, secara khusus adalah konsep modern. Gagasan bahwa pikiran dapat memberikan agenda dan seperangkat resep bagi kehidupan, tak hanya menyandarkan pada campur tangan dan tindakan Tuhan, hanya mulai berkembang setelah Pencerahan,Pada masa inilah keyakinan bahwa wahyu Tuhan, dan otoritas Gereja sebagai penerjemah kehendak Tuhan, semakin berkurang karena keyakinan baru akan kemampuan akal manusia untuk memahami dunia dan menjadi pedoman bagi perilaku manusia. Hal yang sama, pemahaman mengenai sejarah manusia, bahwa manusia diturunkan Tuhan dari langit, bahwasanya keselamatan yang sejati hanya diperoleh di akhirat kelak, sebagian besar digantikan oleh kekuatan dan kemampuan manusia yang semakin meningkat untuk menggunakan pengetahuan yang baru ditemukan, untuk memperbaiki kondisi manusia. Arti penting kedua asumsi ini tak boleh diabaikan. Tanpa keyakinan pada akal pikiran, teori sosial tidak dapat dianggap dapat memainkan peranan penting dalam masyarakat. Tanpa keyakinan pada kemungkinan adanya kemajuan, apa pun kemampuan manusia untuk memahami hakikat dasar masyarakat, teori sosial tidak akan mampu mencapai peranan positif dalam memperbaiki nasib manusia.Jadi, sosiologi bukanlah semata mata produk modernitas dari suatu keyakinan pada kekuatan akal pikiran manusia untuk uan ang dapat digunakan untuk mencapai kemajuan. Selain itu, dunia yang diciptakan modernitas adalah materi subjeknya yang utama, "lapangan kajian utama adalah dunia sosial yang dibawa oleh lahirnya modernitas.” Sebagaimana juga dikatakan oleh Giddens.kehadiran paling nyata dari sosiologi ”terikat” pada "Proyek, modernitas”. Konstruksi teori-teori sosial mencerminkan kepentingan tidak hanya tentang bagaimana kita hidup, tetapi juga bagaimana kit, seharusnya hidup; teori-teori sosial tentang masyarakat modern tidak hanya mencoba menguraikan dan menjelaskan dunia sosial kita, tetap, juga mendiagnosa masalahnya dan mengusulkan cara pemecahannya Menurut Giddens, hal ini menempatkan sosiologi dalam ”zona transisi yang ketat antara diagnosa dan prognosis".
BAB III 
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian diatas bisa dipahami bahwa sosiologi klasik sangat berpengaruh terhadap modernitas karena sebelum adanya modern pastilah ada yang namanya klasik yang menjadi cikal bakal atau awal mula terjadinya suatu perkara.sosiologi klasik merupakan suatu cabang ilmu sosiologi yang memang sangat penting bagi kita semua.auguste compte sendiri adalah bapak penemu ilmu sosial.ilmu sosial berawal dari adanya krisis moral pada masa lampau yang pada waktu itu memang tidak ada perhatian dari siapapun dan akhirnya auguste compte mempunyai gagasan untuk menjadikan sosial sebagi ilmu.ilmu sosial juga selalu selaras dengan kemajuan zaman atau modernitas,karena semakin lama moral atau perilaku sosial masyarakatakan selalu beruba-ubah dan itu harus ada suatu perkara yang dijadikan pedoman agar masalah yang tercipta bisa terselaikan secara tepat.oleh karena itu kita sebagai makhluk sosial diharapkan bisa menjadi seorang pribadi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Pip Jones,Liza Bradbury,dan Shaun Le Boutilier.2016.Pengantar teori-teori sosial.jakarta:yayasan pustaka bogor indonesia
Roberttus,Robert.2016.modernitas dan tragedi:kritik dalam sosiologi humanitis.Masyarakat Jurnal Sosiologi Vol.20 No.20
Prasetyo,Heri.2013.Sociology Of Space:Sebuah Bentangan Teoritik.Sejarah Dan Budaya.Tahun ke-7 No.2
M.Wahid Nur Tuwaleka.2017.Teori Konflik Sosiologi Klasik dan Modern.Jurnal Al-Hikmah,Volume 3,No.1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar